Pulang Kampung di Kedai Pojok Adhyaksa

Senandung gemericik air terus bermain di telinga, tiupan angin sore terasa sejuk saat menyentuh kulit. Sandaran kursi dari rotan terus menggoda untuk tidur, sayangnya beberapa meja kayu begitu riuh dengan orang-orang yang bercengkrama. Sebagian meja yang ditempatkan tak beraturan diisi beberapa pemuda yang nampak serius di depan layar laptop. Tak terdengar keluh tentang asap rokok dari suara halus perempuan yang hari itu dikelilingi para perokok. Mereka tampak asyik sendiri dengan obrolan mereka. Wajar saja karena bangunan berukuran kurang lebih 15 x 8 meter itu hanya ditutupi atap seng dengan dikelilingi tembok pembatas. Taman-taman kecil dengan beberapa tumbuhan merambat yang tumbuh liar seolah menjadi hiasan alami. Di samping ruang itu terdapat sebuah kolam ikan berukuran kecil dengan pembatas pagar bambu berkuran 50cm yang hampir tak terlihat karena tumbuhan merambat.

Berada di tempat itu kita seolah terbawa ke suasana sebuah desa yang menyediakan tempat untuk berkumpul bersama teman ataupun keluarga sambil menikmati sajian menu beragam dengan suasana sejuk jauh dari polusi. Tidak ketinggalan fasilitas internet yang lumayan mendukung pekerjaan, juga untuk kebutuhan sosial media. Tak jarang tempat ini dijadikan ruang berkumpul dan berkegiatan bagi sejumlah komunitas maupun ajang reunian.

Makanya tempat ini tak pernah terlihat sepi. Salah satu pengunjungnya adalah Mansyur Rahim, hampir setiap hari ia duduk dengan laptop dan tabletnya dengan ditemani kopi atau teh jahe yang menjadi menu pamungkas tempat itu. Kenyamanan dan keramahan bagi perokok adalah alasannya memilih tempat ini sebagai kantor pribadinya. Jadi orang yang tidak merokok tidak perlu risih saat berada di sini. “Kalau mau ketemuan sama teman lama diajak kesini karena memang tempatnya nyaman” Ujar pria yang tren di blog dan sosial media dengan nama akun @lelakibugis ini.

Berbeda dengan Mansyur Rahim, Nur Al Marwah menyukai tempat itu karena makanan tradisional serta eskrimnya yang enak, banyak dan murah. “ Sebagian tempat nongkrong kalau mau pesan Pisang Pepe susah, kadang tidak ada. Nagh, kalau disini langsung ada” celoteh perempuan berbadan mungil yang malam itu berpindah-pindah meja dengan mulut yang tak berhenti mengunyah.

Sanggara Peppe salah satu menu di Kedai Pojok Adhyaksa.

Sanggara Peppe salah satu menu di Kedai Pojok Adhyaksa.

Tak hanya menawarkan suasana sejuk seperti di desa atau perkampungan. Beragam pilihan menu makanan dan minuman yang lumayan murah juga menjadi salah satu nilai plus ditempat ini. Diantara beragam menu tersebut ada cemilan Pisang Peppe dan Kambeng-kambeng yang bisa menjadi pilihan cemilan tradisional pas saat berkumpul bersama teman di tempat itu. Karena cemilan tradisional ini biasanya jarang kita temukan di tempat nongkrong lainnya. Wajar saja cemilan berbahan dasar pisang mengkal (pisang Peppe) dan pisang masak yang dibalut terigu (kambeng-kambeng) ini selalu diminati para pengunjung yang datang dengan ditemani secangkir kopi atau teh. Bahkan tak jarang ada yang datang hanya untuk membeli dan membungkus kedua cemilan tersebut.  Kalau untuk makanan berkuahnya kita bisa mencoba menikmati kehangatan Sop ubinya yang memiliki cita rasa berbeda dengan biasanya.

Suasana santai dan sejuk itu bisa kita temukan di sudut kota Makassar, kedai yang menyempil di pojok jalan Adhyaksa Baru tersebut bernama kedai Pojok Adyaksa. Kita tak perlu resah dengan suara bising lalu lintas atau klakson kendaraan saat menikmati makanan dan minuman, karena tempat itu jauh dari jalan raya. Lokasinya tepat berada di belakang Hotel Continent dan berjarak 10 meter dari sebrang Pondok Green Adhyaksa.

Selain suasana dan menunya, tempat yang biasa disingkat menjadi Kepo ini bisa juga dijadikan tempat meeting ataupun kegiatan rapat santai sambil duduk melantai. Karena fasilitas penunjang seperti outfocus, sound system dan mic lengkap. Hal ini pula yang membuat kepo menjadi langganan kegiatan pameran, panggung kegiatan komunitas bahkan perayaan ulang tahun.

Kedai yang berdiri sejak tahun 2014 ini memang tidak seistimewa coffe shop atau cafe tempat nongkrong yang lagi tren saat ini. Karena pemmiliknya, Syaifullah dan Andi Armi Bungalifu tidak pernah berfikir untuk merancang sebuah bangunan cafe di lahan kosong samping rumah orang tuanya itu. “Dulunya kepo hanya semua lahan kosong samping rumah yang di penuhi tumbuhan menjalar dan rumput panjang, hampir setiap bulan saya datang untuk membersihkan.” Ujar Syaifullah. Dari kebiasan itulah pria yang sering disapa kak Ipul ini mendaptkan ide untuk membangun sebuah usaha di lahan kosong tersebut. “Daripada hampir setiap minggu saya harus bolak balik membersihkan rumput-rumput rumah ini” ujar bapak dua anak yang hari itu sibuk di meja kasir.

Suasana Kedai pojok Adhyaksa saat ramai. Iqbal lubis

Suasana Kedai pojok Adhyaksa saat ramai. Iqbal lubis

Ide sederhana untuk rancangan kedai ini lahir dari sebuah perbincangan di tengah kemacetan Kota Makassar. Andi Armi Bungalifu atau akrab di sapa kak Yayu inilah yang memiliki ide konsep alam untuk Kepo. Awalnya pasangan suami istri ini ingin membuaat sebuat rumah makan prasmanan. Sampai tiba saatnya mereka berada di tengah kemacetan kota makassar seusai pulang kerja. Saat itu saya bersama suami terjebak kemacetan seusai pulang kerja ditengah jalan kemudian terlintas untuk membuat sebuah tempat yang nyaman dengan nuansa pulang kampung yang tenang. “Sebuah tempat seperti di kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga atau teman sambil menikmati sanggar pisang atau kambeng-kambeng dan teh hangat dan tidak terganggu dengan asap rokok.” Ujar, Kak Yayu perempuan berdarah Bugis Soppeng yang pernah bekerja sebagai Sales Eksekutif di salah satu Industri Otomotif. Hadirnya Kepo juga tak hanya membawa rejeki tambahan untuk kak Yayu dan kak Ipul mereka mengakui Kepo juga membuat mereka banyak mengenal komunitas-komunitas positif dan kreatif di Makassar. “Menambah banyak teman baru, biasanya saya hanya bergaul sesama sales atau teman seangkatan saja” ungkapnya. Kepo juga menjadi ruang bermain bagi Adek Bro dan Kaka, anak dari kak Yayu dan kak Ipul.

Jadi tak perlu jauh-jauh mencari tempat tenang dan nyaman di tengah riuhnya kendaraan kota Makassar. Singgahlah sejenak ke tempat ini dan rasakan sendiri kenyamanan dan ketenangan setelah beraktifitas ataupun sekedar untuk bersantai dengan teman. Beberapa pengunjung yang sudah terlanjur jatuh hati pada Kepo, mejadikan tempat ini sebagai kantor atau pusat berkumpulnya. Hanya dengan modal Rp 50 ribu kalian sudah bisa menikmati hangatnya Sop Ubi, gurihnya pisang Peppe dengan secangkir besar Teh jahe.

Suasana Pameran Logo city branding di kedai pojok Adhyaksa, Makassar. Iqbal lubis

Suasana Pameran Logo city branding di kedai pojok Adhyaksa, Makassar. Iqbal lubis

Peta Lokasi Kedai Pojok Adhyaksa. Sumbser foto: Twitter @kepoadhyaksa

Peta Lokasi Kedai Pojok Adhyaksa. Sumbser foto: Twitter @kepoadhyaksa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *