*Hanya bayi yang dianggap suci yang boleh dikubur di batang pohon.

Bergidik rasanya memandangi lubang-lubang kuburan bayi yang tampak padat memenuhi batang pohon besar yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Beruntung, udara siang itu cukup hangat, setidaknya mengurangi nuansa angker kawasan pekuburan yang dikepung rumpun bambu yang menjulang. Kawasan pekuburan bayi ini terletak di Desa Kambira, Kecamatan Sangalla, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

 

Pohon besar berdiameter sekitar 1 meter yang dijadikan lokasi kuburan bayi oleh masyarakat setempat itu disebut sebagai pohon tarra’. Konon, pohon ini sudah berusia kurang-lebih 300 tahun. “Hanya bayi yang dianggap suci boleh dikubur di batang pohon ini,” kata Andarias, salah seorang warga Kambira yang sehari-hari menjaga dan memberikan penjelasan kepada pengunjung yang datang. Bayi yang dianggap suci adalah yang meninggal sebelum gigi susunya tumbuh.

 

Menurut Andarias, pohon ini dipilih sebagai tempat menguburkan bayi karena menghasilkan banyak getah. Nah, getah ini dianggap sebagai pengganti air susu ibu. “Karena orang Toraja menganggap bayi ini kembali ke rahim ibunya,” ujarnya. Prosesi mengembalikan bayi ke “rahim ibunya”, menurut kepercayaan setempat, akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir di kemudian hari.

 

Tak sembarang pohon tarra’ yang dijadikan kuburan. Pohon yang diameter batangnya cukup besar dipilih karena batang harus dilubangi sebagai rumah bersemayam bayi. Mayat bayi diletakkan begitu saja dalam lubang pohon, tanpa dibungkus. Lubang ini kemudian ditutup dengan menggunakan ijuk yang diambil dari pohon enau. “Pemakaman bayi dalam pohon ini hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang masih menganut Aluk Todolokepercayaan para leluhur suku Toraja. Mereka menyebut kuburan ini dengan nama passilrian.”

 

Sebelum dikuburkan dalam pohon, pihak keluarga akan menggelar upacara Rambu Soloupacara kematian—untuk mengantarkan bayi yang meninggal menuju passilirian. Hanya, kata Andarias, upacaranya lebih sederhana. Keluarga yang berduka cukup menyiapkan seekor babi, pengganti kerbau. Hewan yang disiapkan ini dipercaya sebagai alat transportasi roh bayi menuju puya alias surga. “Prosesi penguburan bayi di passilirian terakhir kali digelar tahun 1950,” kata  Andarias. Menurut dia, prosesi ini ditinggalkan, setelah masuknya ajaran dan kepercayaan agama ke Toraja.

 

Seorang wisatwan asing mengambil gambar pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Meski sudah lebih dari setengah abad, prosesi passilirian ini sudah tidak dijalankan. Tapi masih sangat jelas tingkatan strata masyarakatnya. Seperti kuburan pada umumnya di Toraja, penempatan kuburan bayi ini juga didasari strata sosial keluarga. “Semakin tinggi tempat penguburan, maka semakin tinggi pula derajat sosial keluarga si bayi dalam kehidupan bermasyarakat.” Uniknya lagi, kata Andarias, arah lubang kuburan ditempatkan sesuai dengan arah tempat tinggal keluarga.

 

Meskipun ada banyak lubang yang menjadi kuburan bayi di pohon ini, tak ada bau bangkai sama sekali. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kuburan bayi ini akan menutup dengan sendirinya setelah 20 tahun. Mungkin karena itu, masyarakat Kambira tidak akan kekurangan tempat untuk menguburkan bayi yang masih suci.

 

Seorang wisatwan asing berjalan di bawah pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang wisatwan asing berjalan di bawah pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Lubang-lubang yang ditutupi ijuk yang di jadikan tempat menguburkan bayi, semakin tinggin kuburannya maka semakin tinggi derajat yang meninggal di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Seorang wisatwan asing mengambil gambar pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang wisatwan asing mengambil gambar pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Refleksi pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Refleksi pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Seorang wisatwan berdiri disamping pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang wisatwan berdiri disamping pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi menjadi salah satu objek wisata menarik bagi wisatawan manca negara di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi menjadi salah satu objek wisata menarik bagi wisatawan manca negara di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Wisatwan asing mengambil gambar pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Wisatwan asing mengambil gambar pohon Tarra yang di jadikan tempat menguburkan bayi di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih./Iqbal Lubis

Jalan Menuju Kambira

 

Wisatwan asing mengunjungi tempat wisata kuburan bayi di pohon di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.TEMPO/Iqbal Lubis

Wisatwan asing mengunjungi tempat wisata kuburan bayi di pohon di kecamatan Kambira, Tanah Toraja, Minggu 3 Agustus 2014. Menurut ajaran aluk Todolo(animisme) bayi yang meninggal sebelum gigihnya tumbuh dikuburkan dalam sebuah lubang di pohon Tarra, karena dianggap bayi-bayi tersebut masih suci dan pohon tersebut sudah berumur 300 tahun lebih.Iqbal Lubis

Mengendarai sepeda motor matic menempuh jarak sekitar 350 kilometer dari Makassar hingga Toraja, dengan lama perjalanan sekitar 7 jam. Akhirnya saya dan teman saya yang juga berprofesi sebagai fotografer sampai di Makale, ibukota Kabupaten Toraja Utara. Jarak Desa Kambira dari Makale tidak terlalu jauh.

 

Tapi sebaiknya hati-hatilah mengemudi kendaraan Anda, karena jalan menuju Kambira kecil dan berkelok-kelok. Meski demikian, petunjuk jalan menuju Kambira terpampang jelas di sepanjang jalan.  Suguhan pemandangan areal persawahan memanjakan perjalanan kami. Tapi jangan terbuai, jika sudah menemukan kantor Polsek Sanggalla, artinya Anda sudah dekat dari lokasi kuburan bayi.  Untuk masuk ke kawasan pekuburan, Anda harus menebus tiket masuk senilai Rp 10 ribu per orang.

 

Jika ingin tiba lebih cepat ke Toraja, Anda bisa memilih perjalanan melalui udara yang hanya butuh waktu 40 menit dari Makassar menuju Bandara Pongtiku Toraja.  Tapi penerbangan ke Toraja hanya dua kali seminggu. Jika Anda tak mengendarai kendaraan pribadi, satu-satunya pilihan adalah menempuh jalur darat dengan menggunakan bus dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 8 jam.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 5: Jelajah Sulsel“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.