To Mata’da Tradisi Memberi Makan Leluhur Masyarakat Aluk Todolo

 

“Pelaksanaan ritual adat memberi makan para leluhur ini tidak setiap tahun di laksanakan. Semua tergantung kesepakatan rumpun keluarga yang bernazar, kalau mereka mampunya tahun ini dilaksanakan tahun ini”

 

Sebagian besar orang atau kelompok masyarakat akan melakukan sesuatu hal setelah mencapai tujuan utama dan menggapai hal terpenting dalam kehidupannya. Atau biasa kita sebut dengan bernazar. Ada berbagai macam cara dan berbagai macam tindakan yang dilakukan. Begitupun dengan masyarakat Tana Toraja yang di kenal dengan keberagamaan adat, ritual dan budayanya. Bagi sebagian besar orang Toraja menjalankan nazar adalah hal yang wajib bagi seseorang yang telah berjanji setelah mencapai hal yang di inginkannya. Dalam paham aluk todolo—kepercayaan atau paham agama orang dulu dalam masyarakat orang Toraja. Ada sebuah ritual yang disebut dengan to mata’da— orang membayar kuasa berkat yang telah diberikan sang leluhur. Menariknya ritual membayar nazar ini bukanlah tanggung jawab bagi seseorang yang telah bernazar, melainkan nazar tersebut adalah tanggung jawab bagi rumpun keluarga yang masih hidup.

Di daerah perbukitan arah selatan kota Makale, udara masih sejuk padahal matahari pagi telah berlalu sekian jam dari persembunyiannya. Suasana perkampungan yang berada 2 km dari objek wisata Ketekesu itu begitu sunyi. Bangunan yang memiliki tata letak berorientasi utara-selatan dengan pintu utama di utara atau disebut dengan tongkonan, hanya sesekali terlihat. Mungkin karena kecamatan Sangalla ini adalah salah satu tanah adat yang masih kental dengan status strata sosialnya. Hari itu minggu (23/8), tanah yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama nasrani ini biasanya pada hari minggu melakukan ibadah di gereja. Jadi sangat jarang kita menemukan aktifitas pertanian ataupun ritual budaya pada hari minggu saat berkunjung ke Toraja.

Mama Ella (52) ia berjalan pelan menuju sebuah tanjakan dengan alas beton yang baru sajah mengering. Ia menjinjing sebuah keranjang yang terbuat dari rotan yang di kaitkan dikepalanya. Tak lama setelah tanjakan itu, langkahnya mengarah ke jalanan semak belukar menghampiri hutan . Dari kejauhan terdengar suara ramai-ramai orang bercerita dengan bahasa Tae—sebutan bagi bahasa orang Toraja. “Disini tempatnya, kami lagi mempersiapkan makanan untuk nene” tuturnya, sambil menurunkan jinjingannya yang berisi beras ketan. Di tempat itu ternyata ada ratusan orang dari yang tua hingga anak-anak, mereka berkelompok. Kelompok perempuan sibuk dengan berbagai perlengkapan dapurnya. Beberapa wanita paruh bayah terlihat asyik menunggu beras ketan yang telah dibungkus daun kelapa  dimasak menggunakan bahan bakar dari bilahan bambu diatas susunan batu.

Lima ekor babi dengan posisi terbaring, kaki-kakinya diikat di kayu, beberapakali terdengar mengorok. Kelompok laki-laki sedang sibuk membuat anyaman kotak dari kulit bambu yang akan di jadikan untta atau tempat menyajikan sesajen bagi para leluhur. Tidak ada pemisah antara kelas-kelas masyarkat seperti lantang pada upacara adat kematian Rambu Solo. Semuanya menyatu dan duduk bersama diatas tanah, pemandangan gotong royong yang sangat jarang di jumpai. “Kami belum bisa makan dulu, sebelum memberikan makan nene’ setelah nene makan barulah kami makan bersama-sama” tutur Pongmida (45) salah satu keluarga yang melakukan to mata’da.

Sejumlah perempuan memasak Lappa yang terbuat dari beras ketan saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015.Ada 12 jenis ketupat dan sesajen beras ketan yang di masak dalam berbagai warna.TEMPO/Iqbal Lubis

Sejumlah perempuan memasak Lappa yang terbuat dari beras ketan saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015./Iqbal Lubis

Dalam ritual tomata’da babi adalah salah satu hewan wajib di kurbankan bagi keluarga yang menggelar. Bagi orang Toraja, Babi dan kerbau adalah dua bintang penting dalam setiap ritual-ritual. Fungsi dari babi sebagai binatang kurban untuk dewa-dewa dengan harapan untuk memperoleh berkat untuk kehidupan di bumi. Babi sangat erat hubungannya dengan kemakmuran, kekayaan, kesehatan serta umur panjang. Oleh karena itu  dalam ritual-ritual untuk kehidupan di bumi kerbau tidak disiapkan.

Papa Rena (51) dua tahun lalu ia terangkat sebagai PNS di dinas pendidikan Kota Makale, setelah hampir 10 tahun mengabdi dengan status honorer. Ia pernah bernazar ketika terangkat menjadi PNS ia akan mengurbankan satu ekor babi. “Ini adalah janji saya dua tahun lalu jadi saya harus membayarnya, kalau tidak saya laksankaan akan ada teguran dari nene atau dewa yang memberikan berkat” ucap Aldrian nama asli dari papa Rena yang ikut dalam ritual tersebut. Di temnpat tersebut ada 5 keluarga yang melaksankan ritual memberi makan para dewa ini. Masing-masing keluarga menyiapkan satu ekor babi dan sejumlah sesajen untuk diberikan bagi para dewa atau leluhur.

Seorang warga membakar babi saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Tradisi To Matada ini merupakan budaya syukuran setelah habis panen yang dilakukan masyrakat asli Aluk Todolo atau paham animisme di kalangan Toraja.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang warga membakar babi saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Tradisi To Matada ini merupakan budaya syukuran setelah habis panen yang dilakukan masyrakat asli Aluk Todolo atau paham animisme di kalangan Toraja.TEMPO/Iqbal Lubis

Isi dalam untta ada berbagai macam makanan, yang wajib adalah Belundak sejenis songkolo ketan hitam, kalusung atau songkolo ketan berwarna kuning yang telah di campur kunyit, kambatu beras ketan putih yang telah di masak serta piong roro atau daging babi yang telah dipotong-potong panjang setelah dibakar dalam bambu. Untuk sesajen penutup mereka menyiapkan daun tembakau kering atau beberapa batang rokok.

Upacara ritual adat ini sudah turun temurun di jalankan masyarakat di Kecamatan Sangalla, namun yang masih bertahan hanya di dua kampung sajah. Kampung Balik dan kampung Bokko karena memang ritual adat ini dipercaya penduduk kampung adalah warisan para leluhur aluk todolo. “Upacara ini untuk arwah leluhur yang telah mati nama leluhurnya Tumbang Datu. Dalam upacara ini tidak ada pastur ataupun pemuka agama seperti digereja karena ini adat dari paham orang dulu yang juga leluhur kami” ucap, Minda Sagala pria berambut putih yang masih menganut paham aluk todolo.

Ia juga menjelaskan tentang tokoh atau leluhur mereka yang dianggap sebagai dewa. Namanya Tumbang Datuk, dia adalah seorang raja yang pernah berkuasa dikampung tersebut sebelum masa pemerintahan datang. Menurut sejarah tongkonan (kampung) balik dan bokko , Tumbang Datuk adalah salah seorang raja yang ahli dalam strategy perang. Bahkan strategi perangnya mampu mengalahkan raja bone. Selain kecerdasannya dalam berperang ia juga di kenal sebagai sang jawara saat pasilaga tedong atau mengadu kerbau. Pernah sekali waktu raja di Luwu menantangnya untuk mengadu kerbaunya dengan kerbau raja Luwu. Ia membawa kerbau yang belum dewasa dengan tanduk baru sepanjang telapak tangan, sementara kerbau raja luwu adalah kerbau besar dengan tanduk yang panjang seperti lengan. Tetapi kerbau anak, milik Tumbang Datuk tetap menang dan masih banyak permainan lain yang membuat raja Luwu menghormati Tumbang. “Semasa hidupnya Tumbang Datuk memiliki dua orang anak bernama Tandi Pada yang memegang kendali Desa Bokko dan Tandi Pada yang berkuasa di Desa Balik” begitulah Nene Minda, menjelaskan cerita tentang leluhur mereka yang dianggap dewa di dua kampung tersebut yang hingga saat ini nama leluhur mereka menjadi nama Desa Tumbang Datuk, Kecamatan Sangalla. Minda juga sempat memperlihatkan kartu tanda penduduknya yang di kolom agama masih bertuliskan agama Hindu.

Warga makan bersama setelah melakukan tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Masyrakat atau keluarga yang ikut dalam tradisi ini melakukan acara makan bersama di lokasi setelah sesajen diberikan kepada para leluhur.TEMPO/Iqbal Lubis

Warga makan bersama setelah melakukan tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Masyrakat atau keluarga yang ikut dalam tradisi ini melakukan acara makan bersama di lokasi setelah sesajen diberikan kepada para leluhur.TEMPO/Iqbal Lubis

Pelaksanaan ritual adat memberi makan para leluhur ini tidak setiap tahun di laksanakan. “Semua tergantung kesepakatan rumpun keluarga yang bernazar, kalau mereka mampunya tahun ini dilaksanakan tahun ini” Ujar nene Minda. Waktunya juga harus setelah panen padi Ambok salah satu padi verietas unggulan Tanah Toraja. Serta ritual ini tidak boleh dilaksanakan apabila masih ada jenazah orang mati diatas rumah dalam satu kampung.

Semua makanan yang akan di jadikan sesajen telah masak, Mama Ella mengatur makanan yang ditempatkan menjadi satu ke untta. Untta itu kemudian di taruh di tengah hutan tidak jauh dari lokasi memasak. Setiap orang dan keluarga juga menaruh uang recehan disamping untta yang di jaga oleh to pakamma atau orang yang menjaga sesajen tersebut. Uang-uang tersebut sebagai bentuk doa dan harapan di hari selanjutnya para dewa atau leluhur selalu memberikan meraka berkat yang lebih.

 

Sejumlah uang dan sesajen berupa beras ketan berbagai warna yang disimpan diatas Panne saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Sesajen tersebut ditaruh di atas bukit dan dipercaya sebgai mekanan arwah para leluhur mereka.TEMPO/Iqbal Lubis

Sejumlah uang dan sesajen berupa beras ketan berbagai warna yang disimpan diatas Panne saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Sesajen tersebut ditaruh di atas bukit dan dipercaya sebgai mekanan arwah para leluhur mereka.TEMPO/Iqbal Lubis

Sejumlah uang dan sesajen berupa beras ketan berbagai warna yang disimpan diatas Panne saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Sesajen tersebut ditaruh di atas bukit dan dipercaya sebgai mekanan arwah para leluhur mereka.TEMPO/Iqbal Lubis

Sejumlah uang dan sesajen berupa beras ketan berbagai warna yang disimpan diatas Panne saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Sesajen tersebut ditaruh di atas bukit dan dipercaya sebgai mekanan arwah para leluhur mereka.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang warga menyumbangkan uang di dekat sejsajen saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Uang-uang yang disumbangkan warga dipercaya membawah berkah bagi mereka dan akan disumbangkan untuk membeli seekor babi .TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang warga menyumbangkan uang di dekat sejsajen saat tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Uang-uang yang disumbangkan warga dipercaya membawah berkah bagi mereka dan akan disumbangkan untuk membeli seekor babi .TEMPO/Iqbal Lubis

Seoranmg penganut paham Aluk Todolo atau animisme menunjukkan ktpnya di tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Tradisi To Matada ini merupakan budaya syukuran setelah habis panen yang dilakukan masyrakat asli Aluk Todolo atau paham animisme di kalangan Toraja.TEMPO/Iqbal Lubis

Seoranmg penganut paham Aluk Todolo atau animisme menunjukkan ktpnya di tradisi To Matada di perbukitan desa Tumbang Datu, Sangalla, Tanah Toraja, Sulsel, Minggu 23 Agutus 2015. Tradisi To Matada ini merupakan budaya syukuran setelah habis panen yang dilakukan masyrakat asli Aluk Todolo atau paham animisme di kalangan Toraja.TEMPO/Iqbal Lubis

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *