Ruang-ruang Lain Di Perjalanan

Kepulan awan tak beraturan seakan membentuk serpihan lukisan yang beragam di langit biru. Saya keluar dari rumah batu bertingkat dua dan bergegas mengambil motor yang terparkir di sebrang jalan. Tak satupun kendaraan yang melintas di Jalan Raya Pendidikan, yang terlihat hanya seokor kucing yang duduk manis menunggu sang pemilik memberinya makan. Entahlah, siapa pemilik kucing berbulu halus dengan warna putih bersih kecoklatan itu. Pikirku mungkin ia jenuh terkurung di dalam rumah, dan keluar untuk mencari udara segar.

Tak lama setelah mengamati kucing tersebut, kupacu sepeda motor matic ku menuju jalan poros AP Pettarani. Di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), laju motor ku perlambat. Mataku tertuju pada beberapa orang yang lagi menunggu angkutan. Mereka berdiri sejajar dengan pintu gerbang kampus berwarna putih kusam. Pria dan wanita paruh baya, memakai kebaya lengkap dan dengan motif tenun Toraja. Sementara sang gadis memakai seragam toga lengkap dengan wajah yang telah di make up, terlihat begitu menawan. Mereka seperti satu keluarga yang baru keluar dari acara wisuda. Sang bapak dan ibu tampak riang memegang map hitam sembari memandang wajah anak gadisnya.

Memasuki kawasan Jalan AP Pettarani menuju Jalan Sultan Alauddin deretan pohon tertata rapi di bahu jalan. Kawasan tersebut terasa sejuk dan hijau di pandang mata. Meski, sisa-sisa spanduk mulai dari promo iklan produk sampai bendera partai politik masih menempel dengan paku di batang pohon. Mungkin, mereka yang menyuruh dan memasang spanduk itu berfikir bahwa memasang spanduk di pohon. Adalah salah satu cara yang sangat mudah dan cukup ekonomis untuk meminimalisir biaya promosi. Secara tidak sadar mereka telah merusak sebagian keindahan kota dan mengambil sedikit sumber oksigen dengan cara memaku pohon.

Sembari memutar hendel gas motor secara perlahan. Pikiran saya melayang pada tagline Makassar “Makassar Menuju Kota Dunia” yang belakangan, setelah walikota berpindah tangan. Berganti menjadi “Smart City.” “Kota pintar yang bagaimana.?” Tanyaku dalam hati. Jika masih ada media promosi di pohon-pohon yang menjadi media penghijauan kota. Seakan taglinle tersebut hanya menjadi pernyataan beberapa orang saja dan bertolak belakangan dengan prinsip dasar dari Kota Pintar. Dimana membuat masyarkatnya juga harus ikut cerdas dalam memilah media promosi.   Seruan tentang Makassar Ta Tidak Rantasa (Makassar kita tidak kotor) juga hanya menjadi program mimpi walikota saja, yang harus tenggelam diantara spanduk-spanduk yang berbaris di batang pohon. Pemandangan tak enak dipandang mata, itupun terus terjadi secara berulang setiap ada momentum acara bersekala nasional.

Tak berlama-lama saya menikmati kesejukkan melintas dibawah deretan pohon tersebut, kemudi motor dengan lembut saya belokkan kearah Jalan Sultan Alauddin. Berbeda dengan Jalan AP Pettrani, Jalan Sultan Alauddin jauh lebih gersang dan berdebu. Hanya terlihat beberapa pohon-pohon trambesi yang tumbuh berjarak. Intslasi kabel listrik yang terpasang semerawut. Jejeran pedagang kaki lima berbaris menjajakkan berbagai dagangan mulai dari buah-buhan sampai bendera merah putih. Jejeran ruko-ruko besar, swalayan dan gerbang perumahan elit juga tak luput dari pandangan mata.

Mendadak laju sepeda motorku berubah menjadi tidak stabil, saya seperti melaju dengan roda ban motor yang berbentuk segitiga. Padahal, aspal dijalan raya yang menghubungkan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa itu mulus nyaris tanpa kubangan. Tanpa berfikir panjang saya langsung menepi ketepi jalan. Saya berhenti tepat di depan ruko tua dengan cat berwarna warni. Ruko tersebut menjual beberapa jenis meterial bangunan, yang membuat saya memandang lama ruko berlantai tiga itu. Karena semua pekerjanya yang berjumlah 4 oranng adalah perempuan paru bayah. Salah satu dari mereka, berjalan kearah saya. “Kenapa motor ta dek?” tanya perempuan paruh baya yang mengenakan hijab berwarna ungu. “Bocor ki bannya bu” Ucapku. Singkat, sambil memandangi wajahnya yang penuh debu bercampur keringat. Mungkin karena kasihan, ibu itu langsung menunjukkan saya sebuah bengkel yang berjarak sekitar 300 meter dari ruko tempatnya bekerja.

Setelah mengucapkan terimakasih dan pamit, saya mengambil nafas sejenak. Kemudian mulai mendorong motor menuju bengkel yang ditunjukkan ibu tadi. Sembari mendorong motor dengan kondisi ban depan yang tak berangin saya terus memikirkan ibu tadi dan 3 pekerja perempuan lainnya. Saya seperti baru sajah melihat potret buruh perempuan yang berjuang untuk sesuap nasi dengan melakoni pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki.

Di depan mata terlihat sebuah gubuk kecil dengan atap terpal tenda berwana biru yang memanfaatkan batang pohon trambesi yang sudah lapuk. Di dalam gubuk itu terlihat sebuah mesin kompresor yang diatasnya bergantung papan bertuliskan “Press ban dalam.” “Mau tambal ban pak.?” Tanya, perempuan berpostur kecil yang kira-kira berumur 30an tahun. Saya kembali terdiam. Heran. Bingung. Penasaran. Semua bercampur menjadi satu kelelahan dengan nafas putus-putus. “Iya bu” jawabku. Motor kuputar membelakangi jalan raya. Ibu itu kemudian mulai sibuk mengerjakan ban motorku dengan perlatan kunci-kunci seadanya.

Motorku kutinggal di gubuk tadi bersama seorang perempuan yang kembali membuka pandanganku tentang realitas gender dilingkungan sekitarku. Sembari berjalan mencari tempat membeli minuman. Dalam hati, saya bertanya kemanakah sosok laki-laki yang seharusnya berada di posisi tersebut.? Kenapa mesti para perempuan tadi yang bekerja keras menggantikan mereka.

Karena tak menemukan warung, saya terpaksa mampir disebuah warung kopi yang berseblahan dengan kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Belum semenit saya duduk setelah memesan secangkir kopi, seorang pria dengan kondisi yang kumal mendekati saya. Ia hanya datang meminta sebatang rokok yang masih menempel dimulut dan belum tersulut api korek. Dari penampilannya sepertinya psikologi orang tadi terganggu.

Di meja sebelah tempat saya duduk, terdapat empat orang mahasiswa yang lagi asyik berdiskusi. Terdengar sedikit berisik, sepertinya mereka sedang asyik mendiskusikan persoalan ideologi negara. Dibelakang meja terpajang poster berukuran 3 kali 1 meter bergambar wajah Thales—- seorang filsuf yang mengawali sejarah filsafat barat pada abad ke-6 SM.

Disudut ruangan warkop yang berjarak 5 meter dari meja saya terlihat beberapa orang berpakaian PNS lengkap tengah asyik menggelar muktamar diatas meja panjang. Kopi susu pesanan saya akhirnya datang tak lama setalah mengamati aktivitas-aktivitas didalam warkop tersebut. Tak butuh waktu lama kopi susu yang sudah tersaji depan saya langsung ku seruput. Hari ini saya seperti diperlihatkan Tuhan tentang bentuk sublim dalam sebuah proses kehidupan. Banyak belajar bersyukur dan menghargai setiap apa yang kita dapatkan hari ini.

 

 

 

 

 

 

****

Tulisan Ini hanya Fiktif belaka kalau ada karakter,nama dan kejadian  serta tempat yang sama itu hanya sebuah kebetulan. Semoga tulisan ini juga menghindarkan saya dari godaan hukuman teraktiran yang terkutuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *