Hari sudah gelap meski langit begitu terang karena kerlap-kerlip  bintang yang tak beraturan  seakan menyambut rombongan kami saat  tiba di Pulau Latondu. Pulau ini juga salah satu pulau berpenghuni yang ada di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate

Malam itu air laut sedang surut sehingga kapal besar Rezki Selamat  tidak bisa merapat. Kami terdampar cukup jauh dari daratan, Rombongan kami yang berjumlah 14 orang dari berbagai instansi yang memang diundang  khusus oleh pantia dan abk kapal yang berjumlah 6 orang,  akhirnya harus berpindah ke perahu  pembantu. Dengan perahu cadik, perahu kecil bermesin motor yang hanya bisa  memuat sampai 8 orang, terpaksa kami harus secara bergantian untuk bisa mencapai daratan. Saat perahu itu mengantar rombongan ke daratan, sebuah musibah terjadi. Mendadak perahu  kayu dewa ruci—sebutan warga untuk perahu pembantu, berukuran panjang 2 meter dan lebar 50 cm itu  terbalik, 8 orang dari rombongan tercebur ke air laut dengan ketinggian 1 meter .

“Yah ternyata memang menuju surga itu mahal.”  kataMade yang malam itu menggil kedinginan karena basah kuyup. Hanya bagian kepala yang tak basah oleh air laut.Seluruh peralatan seperti laptop, kamera dan Iphone 4s miliknya rusak karena terendam di air garam.  Cerita malam itu bukanlah bagian dari inti perjalanan kami tetapi itu hanya sepenggal  cerita perjuangan untuk mencapai gugusan pulau yang terpecah menjadi 21 pulau di Taman Nasional Taka Bonerate.

Pagi hari di Latondu kita bisa melihat semakin dekat adat, budaya dan kehidupan masyarakat lokal. Tak hanya daratnya, lautnya pun sangat menggoda . Pulau Latondu dikelilingi oleh perairan yang memiliki warna biru seperti kristal dan pasir putih seperti terigu. Begitu menggodanya kami tak mau melewatkan kesempatan itu. Saya langsung meminjam alat snorkelingseorang teman dari Taman Nasional. Saat mata memandang jauh terlihat beton-beton dengan lubang pipa tersusun rapi, ditengah pipa terdapat tangkai anak karang  berwana ungu, putih dan hijau. Ternyata kami baru saja melihat bagian dari transplantasi karang. “Ini merupakan cara masyarakat untuk menyelamatkan terumbu karang, yah seperti merangsang karanglah” ujar Asri salah satu staff Taman Nasional Taka Bonerate yang hari itu menemani kami snorkeling.

Merangsang pertumbuhan terumbu karang tidaklah mudah. Butuh waktu minimal 10 tahun. Itu pun dengan syarat: keadaan lingkungan baik, suhu dan kecepatan arusnya stabil, serta harus terlepas dari penangkapan ikan berlebih. Semua kondisi itu menjadikan potensi bahari dan pusat pendidikan terus tertidur. Hingga kini, rencana pemerintah daerah menjadikan Taka Bonerate sebagai tempat wisata bahari seperti Bunaken dan Wakatobi masih sebatas rencana.

Memasuki kawasan pulau ini kita akan melihat beberapa rumah penduduk yang berada di sisir pantai. Rumah penduduk di pulau ini memiliki karakteristik rumah panggung dengan atap daun kelapa . Di dalam Pulau Latondu terdapat tempat konservasi untuk penyu. Tukik-tukik ditempatkan di kolam rawat hingga siap dilepas di alam bebas. Sangat terlihat bahwa masyarakat di sini sudah diajarkan mengenai biota-biota yang masuk dalam golongan biota yang dilindungi di dalam laut.

 

Penangkaran tukik di bawah rumah Pualu Latondu

Penangkaran tukik di bawah rumah Pualu Latondu

Penangkaran itu berada tepat di bawah rumah Pak Marling, pria 40 tahun yang sudah lebih dari 10 tahun membudidayakan tukik-tukik dan penyu tersebut. Menariknya karena Pak Marling dulunya adalah seorang penjual telur dan pemburu penyu untuk dijual. “Sebelumnya saya adalah seorang nelayan tangkaplepas, saat melaut mendapatkan penyu dan telurnya langsung saya jual” tutur pria kelahiran Bugis Selayar ini. Ia tersadar setelah mendapatkan informasi dan sosialisasi dari Taman Nasional tentang pentingnya menjaga dan melestarikan penyu. “Memang awalnya susahki karena biaya untuk merawat tukik-tukik itu tidak murah, tapi saya kemudian berfikir jangka panjangnya” ucapnya. “Tapi kalau ada wisatawan yang datang ingin melihat atau melepas penyu itukan bisa menjadi satu penghasilan tambahan,” tambahnya. Terdapat beberapa papan seperti papan mading berisikan daftar-daftar nama biota beserta fotonya yang masuk dalam biota yang boleh ditangkap dan biota yang tidak boleh ditangkap. Papan informasi ini sangat membantu untuk meningkatkan kecintaan dan kesadaran penduduk lokal agar tidak sembarangan dalam memancing atau berburu biota di laut.

Setelah puas menikmati Pulau Latondu kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Tarupa dan Pulau Rajuni. Dari Latondu hanya memakan waktu 2 jam untuk bisa menikmati kesejukaan Pulau Tarupa dan Rajuni. Kami tak berlama-lam di tempat itu, hanya bekeliling desa kemudian menikmati kelapa muda.

 

 

Reuni Atim-1 Reuni Atim-3 Reuni Atim-4 Reuni Atim-6 Reuni Atim-7 Reuni Atim-2