“Kalau takut ombak besar jangan ke Taka Bonerate saat Musim barat, sabaiknya musim timur karena angin dan ombak sedkit lebih tenang”

Guncangan peswat Wings air ATR 72 berkapasitas 72 kursi itu mulai terasa saat mendarat di bandara udara  Aroepala, sebuah bandara perintis yang terletak di Desa Bontosunggu sekitar 7 kilometer dari pusat kota Selayar. Bandara ini melayani rute Makassar- Selayar. Sabtu 19 Oktober 2014 saya dan seorang teman dari komunitas blogger Makassar tiba tepat pukul 11.00 Wita di Kota Benteng yang merupakan ibu kota dari kabupaten kepulauan Selayar.  Kami  bergeser dari perkiraan jadwal awal karena pesawat udara yang kami tumpangi delay hingga 3 jam.

Di Bandara kami sudah ditunggu oleh Hendra salah satu dari pantia Aksi Konservasi Taka Bonerate. Sepanjang perjalanan menuju tempat penginapan kami menikmati pemandangan perbukitan dan hutan pohon kelapa yang berbaris membentuk pagar, sesekali rumah panggung khas Bugis tertangkap oleh mata. Benteng merupakan kota terbesar di Kabupaten Selayar  yang ramai dengan sepeda motor dan becak. Pusat kotanya masih menyisakan sebuah penjara tua peninggalan Belanda dari tahun 1890 yang masih kokoh berdiri. Pusat kota atau sering disebut alun-alun itu merupakan pusat berbagai kegiatan perayaan seni, budaya, dan hiburan di Selayar.  Disamping alun-alun itulah tempat kami menginap, sebuah penginapan  berbentuk toko bernama Tinabo Dive Center. Kamar sederhana namun pelayanannya layaknya hotel bintang 3. Kami hanya menghabiskan 1 malam di tempat itu karena keesokan paginya harus bergegas menuju tujuan utama kami, beberapa gugusan pulau di Taka Bonerate yang menyimpan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kepulauan Marshall dan Maladewa itu.

Pada pagi hari, perahu kecil dan kapal-kapal penumpang di Benteng, seakan disepuh warna kuning keemasan dari semburat mentari. Saya dan  Made (teman dari Blogger Makassar) serta 13 orang pegawai dari Taman Nasional Taka Bonerate tak berhenti berdecak kagum. Air laut bergerak sedikit  tenang, lembut, seperti hentakan kain biru diatas lantai kamar yang ditiup angin . Rasanya tak ingin beranjak di tempat itu.

Pemandangan Sunrise atau matahari pagi yang terlihat di Pulau Jinato

Pemandangan Sunrise atau matahari pagi yang terlihat di Pulau Jinato

Tapi tujuan utama kami bukan untuk menikmati sunrise, melainkan hendak menuju Pulau Jinato. Perjalanan menuju pulau itu sekitar sembilan jam. Awalnya, kapal kayu Rezki Selamat yang kami tumpangi dengan kapasitas 30 orang itu berjalan tenang. Namun, 3 jam kemudian semua berubah.

Inilah laut, kau tak dapat menduga apa yang akan terjadi. Angin bisa berubah setiap saat, begitu juga denngan gelombang. Dari arah depan, kapal  kami dihantam gelombang setinggi dua meter. Saat kapalterhempas, getarannya sangat terasa. Semua orang tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa dari kami terlihat hanya mampu memegang dinding kapal, merapatkan tubuh ke lantai, berbaring, duduk, atau memejamkan mata agar kepala tak begitu pusing.

Anda bisa membayangkan, pergulatan bersama badai itu terjadi selama tiga jam lebih. Kapal hanya bergerak perlahan. Namun, ketika Pulau Jinato sudah terlihat memanjang, angin tiba-tiba berhenti. Kapal mulai stabil, perasaan yang tadinya diguncang ketakutan juga berubah menjadi stabil.

Di hadapan kami, laut sangat tenang. Tak ada lagi busa dari gelombang yang menghantam. Airnya begitu biru dan sangat jernih. Saya sangat takjub, rasanya saya menemukan surga. Ikan-ikan berenang, melompat dengan bebas seakan menyambut kedatangan kami. “Wahh ternyata perjuangan melawan rasa takut itu terbayar, dengan pemandangan biru laut dan pasir putih, Jinato luar biasa” tutur Made sembari mengabadikan gambar menggunakansmartphonenya. Pulau ini terbilang besar diantara 6 pulau berpenghuni lainnya dengan penduduk sekitar 200an kepala keluarga. Tidak ada penginapan atau hotel  di Pulau ini.Kami hanya menginap di pos seksi pengelolaan  Taman Nasional Wilayah II Jinato. Ada 3 orang dari taman nasional dan 2 orang jagawana  atau polisi hutan di pos tersebut.

Pulau Jinato mulai tumbuh sebagai pusat pengembangan roda perekonomian masyarakat pesisir, terutama setelah makin berkembangnya program keramba apung tancap dan industri pembuatan perahu tradisional. Dalam hal menunjang wisata di Pulau Jinato, terdapat kelompok usaha kerajinan tangan “Sanggar Lantigian Kreatif” yang mengolah limbah tempurung kelapa menjadi aneka kerajinan tangan seperti kapal, ikan, pohon, dan aneka biota laut yang bisa dijadikan sebagaioleh-oleh saat berkunjung kesini. Kami  hanya menghabiskan 1 malam di Jinato, kemudian melanjutkan perjalanan ke 6 Pulau lagi. Saya sangat beruntung karena untuk pertama kalinya bisa menjelajahi  gugusan pulau Taka Bonerate, yang sebelumnya hanya bisa saya nikmati dari internet.

Ombak tak lagi menampar-nampar badan kapal,perlahan ia menjinak saat kami kembali ke laut lepas menuju Pulau Latondu. “Kalau takut ombak besar jangan ke Taka Bonerate saat Musim barat, sabaiknya musim timur karena angin dan ombak sedkit lebih tenang” Ujar Asri seorang staff Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Perjalanan dari Jinato menuju Latondu kami tempuh dengan waktu 6 jam lamanya, karena kami harus menyempatkan diri singgah di pulau Passitallu tengah dan Passitallu Barat untuk melakukan penjurian. Selain jalan-jalan kami juga punya tugas dari pantia Aksi Konservasi 2014 untuk melakukan penjurian desa bersih dan Transplantasi karang di pulau-pulau berpenghuni di Taka Bonerate.  Diberi nama Pulau Passitallu karena terdapat 3 pulau yang berderet memanjang  dan hanya berjarak  1 mil atau sekitar 1 jam. Sama Halnya  Jinato,pulau Passitallu Barat dan Tengah ini juga merupakan kawasan berpenghuni  dengan jumlah penduduk sekitar 500 kepala keluarga yang 90 Persen berpenghasilan sebagai nelayan lepas.

 

Seorang warga menjemur ikan asin di halaman rumahnya di pulau Pasitallu Barat. Sebgaian besar ikan tangkapan di keringkan kemudian di jual atau diolah menjadi kerupuk.

Seorang warga menjemur ikan asin di halaman rumahnya di pulau Pasitallu Barat. Sebgaian besar ikan tangkapan di keringkan kemudian di jual atau diolah menjadi kerupuk.

Seorang anak mandi di dekat sumur buatan yang airnya terasa payao. Warga sekitar pulau masih menggunakan air stengah asin untuk kebutuhan sehari-hari karena tidak adanya sumber air bersih.

Seorang anak mandi di dekat sumur buatan yang airnya terasa payao. Warga sekitar pulau masih menggunakan air stengah asin untuk kebutuhan sehari-hari karena tidak adanya sumber air bersih.

Dua Orang Perempuan menunggu kapal di Pulau Pasitallu Tengah.

Dua Orang Perempuan menunggu kapal di Pulau Pasitallu Tengah.

Rombongan aksi Konservasi Taka Bonerate

Rombongan aksi Konservasi Taka Bonerate

Salah satu bentuk trasnplantasi karang di Pulau Jinato yang dikelolah oleh masyarakat

Salah satu bentuk trasnplantasi karang di Pulau Jinato yang dikelolah oleh masyarakat

Salah satu pemandangan bersih di pemukiman masyrakat Pulau Jinato.

Salah satu pemandangan bersih di pemukiman masyrakat Pulau Jinato.