Buah Tangan Industri Kreatif Anak Makassar

“Kalau Ada Nakke Kenapa Harus Elu”

“Kak pesan ka oleh-oleh baju kaos Dagadu Djogja kalau ke Makassar ki lagi nagh” kalimat pesanan merengek ini sering terlontar dari mulut adik bungsu saya saat kakak pertama hendak menuju kota Yogyakarta tempat dimana ia melanjutkan pendidikan strata 1 nya. Brand lokal yang kini tidak hanya memproduksi baju kaos, seakan telah menjadi kewajiban buat siapa saja yang akan melancong ke kota pelajar, saat itu. Wajar saja, saat itu Dagadu Djogja merupakan brand produk paling popular mulai dari beberapa tahun sejak berdirinya di tahun 1994. Namun brand baju kaos khas Yogyakarta beberapa tahun belakangan ini sudah sangat jarang terdengar lagi.

Bahkan tidak hanya dagadu, di Bali, pasaran kaos kreatif dikuasai oleh Joger yang pernah menyandang gelar produsen kaos kreatif di Indonesia ini sudah tak menggaung seperti dulue lagi. Di tahun 2004, dua brand kaos lokal itu seakan tenggelam di tengah geliat pasar brand pakaian Distro (singakatan dari Distribution Store)— merupakan satu jenis toko yang menjual barang berupa pakaian dan aksesoris dari pembuat pakaian atau hasil produksi sendiri. Pakaian distro ini umumnya tidak di produksi secara massal, sehingga mempunyai kualitas yang baik dan terjaga sifat eksklusifnya sebagai produk hasil kerajinan dengan merek independen.

Menjamurnya brand pakaian distro juga mendorong perkembangan industri kreatif garmen di Indonesia, khususnya di Makassar yang saat ini memang berkembang pesat. Berbagai brand lokal dengan ciri khas Kota Daeng ini juga ikut meramaikan pasar idustri kreatif di bidang garmen tersebut. Kalau jaman saya kecil dulu, kaos oblong itu gambarnya tokoh-tokoh kartun idola kita. Lain halnya dengan sekarang, hampir sebagaian kaos-kaos dengan desain lokal dan tulisan-tulisan gaya okkots—fenomena kata/bahasa yang unik atau salah pengucapan- ini pun mulai menjamur. Mulai dari kaos gambar Sultan Hasanuddin yang merupakan Raja Gowa ke 16, sampai kata-kata bergaya okkots seperti “Baju Lebarang Maceku Belikanka” seakan membawa kampanye positif tersendiri bagi nama Makassar saat dikenakan.

Hal ini pula yang mendorong dua pemuda berdarah Makassar dan Kolaka, Ache dan Iccang menggeluti bisnis pakaian distro dengan materi desain bergaya Okkots khas Makassar yang kini mulai banyak dimintasi di kalangan anak-anak hingga kaula muda di Makassar . Di tahun 2014 merupakan awal mereka membangun produksi baju distro lokal tersebut. Dengan nama brand Bajiki Store, kata “bajiki” sendiri diambil dari bahasa Makassar yang berarti “baik” namun dalam makna lainya “bajiki” juga dapat berarti memperbaiki. Dari kata yang khas itu mereka berharap industri kreatif yang membawa label lokal akan terus membaik dan membesarkan nama Makassar. “Kemarin-kemarin banyak distro dengan brand lokal yang bermunculan tapi sayangnya sebagaian besar tidak bertahan lama. Harapanya dengan nama itu dan tema-tema lokal yang kita hadirkan secara konsisten produk industri kretif dari Makassar akan ikut membaik” terang Ache pria kelahiran Makassar yang bernama lengkap Yasser Budi Utomo ini.

Kaos-kaos yang terpajang di ruko Jalan Monumen Emy Saelan No 103 itu, tak hanya memliki kesan yang konyol. Tetapi beberapa desain kaos juga bernuansa kritik dan kebiasan-kebiasan dalam sehari-hari serta mengundang bahan tawa saat membacanya. Tak jarang ada pengunjung yang datang hanya untuk melihat-lihat atau hanya sekedar membaca dan tertawa. “Biasanya ada yang meman cuman datang bolak-balik kaos dan tertawa.” Ujar Ache pria berpostur tambun sembari yang sibuk menyiapkan materi desain baru didepan komputer.

Beberapa hari lalu teman saya sempat bercerita tentang anaknya yang menrengek kepada dirinya untuk di belikan baju lebaran di tempat tersebut. Karena mendengar nama Bajiki, ia langsung mengingat salah satu nama geng motor “Mappakoe” salah satu nama geng motor yang sempat membuat keributan dan ketidak nyamanan masyarakat di Makassar. Karena rasa penasaran dan ketakutan anaknya salah bergaul ia langsung mengantar putra keduanya ke toko tersebut. “Saya berfikir itu tempat ngumpulnya sekelompok geng motor karena nama toko itu mirip-mirip nama geng motor.” Ujar Roem yang bekerja sebagai anggota Polisi unit Itelegen di Polrestabes Makassar. Setelah sampai di toko tersebut ia hanya bisa tersenyum sendiri melihat beberapa koleksi baju yang terpajang. “Pantas anak saya merengek minta dibelikan baju ditempat itu, ternyata memang sangat kreatif ide-ide bajunya saya langsung ikut membeli satu baju karena tertariktambahnya.

Segala ide kreatif dikerahkan untuk membuat kaos bajiki agar tetap eksis dan diminati banyak orang. Tampilan desainnya yang selalu segar dan baru adalah daya tarik tersendiri dari bajiki. Tak heran jika produksi baju-baju kaos di tempat Ache ini mampu bersaing dengan produk-produk distro yang datang dari Pulau Jawa seperti Bandung dan Surabaya. “Di Makassar inikan di kenal dengan kota kuliner jadi beberapa materi desain baju kami juga ada yang bergambar makanan khas seperti coto dan palu basa, jadi bisa sekalian untuk mempromosikan Makassar.” Tutur, pria tamatan UNM jurusan desain grafis ini.

Saat berkunjung ke toko tersebut, Senin 13 Juli 2015 kemarin, saya sempat kesulitan masuk akibat ruangan tempat display baju yang berukuran 4 X 2 meter itu sudah di desaki puluhan pembeli. Mulai dari anak muda sampai orangtua yang mengantar anaknya untuk berbelanja. Menjelang lebaran tempat itu memang sangat ramai pembeli bahkan penjualan baju meningkat hingga 300 persen. Kalau hari biasa mereka mampu menjual 20 lembar kaos perhari pada hari-hari menjelang lebaran penjaualan baju mereka bisa terjual hingga 200 lembar perharinya. “Kalau musim menjelang lebaran seperti ini biasanya toko kami buka dari siang sampai jam sahur, soalnya pembeli tidak mau berhenti” ujar Iccang salah satu founder bajiki store saat ditemui diruang produksi.

Berbeda dengan beberapa distro yang mulai menjamur di Makassar dan bergantung dengan produksi dari pulau Jawa. Untuk produksi kaos bajiki ini mereka memanfaatkan sumber daya manusia lokal dan memproduksi langsung di tokonya. Bagian belakang rumah toko yang berukuran 8 x 4 meter itu dipilih sebagai ruang produksi. Dari ruangan itu mereka mampu memproduksi 100 hingg 200 lembar kaos dengan berbagai desain lokal setiap harinya. Bahakan industri kreatif yang mengutamakan gaya bahasa lokal ini sudah menjadi langganan beberapa perusahaan besar untuk memproduksi kaos yang akan di jadikan sovenir. “Kami juga sering menerima orderan baju dari luar makassar bahkan sesekali ada brand distro yang datang minta tolong untuk dibantu cetakan bajunya, mungkin karena mereka lagi banyak pesanan.” ungkap Ikhsan Tahir yang sudah sejak tahun 2010 melanglang buana di bidang produksi kaos dan sablon. Meski usaha mereka sudah mampu memproduksi baju di Makassar namun mereka masih bergantung di pulau Jawa untuk urusan bahan baku mulai dari kain sampai tinta sablon. Oleh karena itu untuk mengimbangi ongkos pengirman bahan baku mereka menjual 1 lembar bajunya dengan harga Rp 100.000 sampai Rp 120.000.

 

****

 

Popularitas @Bolangmks dan Pasar Bajiki

Keberhasilan brand distro bajiki store yang sudah mulai dikenal di kalangan muda dan anak-anak di Makassar ini juga tak terlepas dari peran salah satu akun di media sosial. Bahkan sebagaian besar ide-ide untuk materi sablon kaos bajiki muncul dari lini masa akun @bolangmks. Salah satu akun twitter dan instagram yang tenar karena kekonyolan 2 aktornya Tumming dan Abu. Gaya konyol dan okkots yang menjadi ciri khas video berdurasi 15 detik itu menjadi jembatan pemasaran kaos bajiki dengan para followers @bolangmks yang sudah mencapai angka 188.000 followers. Peran akun-akun media sosial lokal dianggap memiliki daya tarik tersendiri untuk mengangkat ciri khas orang makassar daripada memanfaatkan media publikasi seperti media cetak dan elektronik. “Akun @bolangmks ini sangat membantu tanpa Tumming, Abu serta managementnya mungkin bajiki tidak akan seramai ini, karena sebagian besar orang datang beli baju karena mau foto bareng dengan Tumming dan Abu” ujar Iksan. Dia juga sangat optimis jika mengangkat konten-konten lokal seperti Tumming dan Abu ini mampu mengangkat nama Makassar di dunia industri kreatif bidang garmen, tambahnya.

Mengutip kutipan Abu “Kalau ada nakke kenapa harus elu” Jadi ketika berbicara baju kita tidak lagi berbicara Dagadu dan Joger atau berbincang soal Jogja dan Bali tapi bajiki dan sebagian besar brand baju lokal bisa menjadi buah tangan yang pas saat orang berkunjung ke Makassar.”

 

Sejumlah pembeli melihat baju kaos yang di pajang industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Produksi baju kaos yang biasanya di jadikan oleh-oleh khas makassar ini mampu meraup omzet hingga 20 juta perharinya menjelang lebaran.TEMPO/Iqbal lubis

Sejumlah pembeli melihat baju kaos yang di pajang industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Produksi baju kaos yang biasanya di jadikan oleh-oleh khas makassar ini mampu meraup omzet hingga 20 juta perharinya menjelang lebaran.Iqbal lubis

Seorang pekerja tengah mengeringkan baju kaos yang telah disablon di salah satu industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Toko baju yang menawarkan desain-desain bertema lokal khas Makassar ini, menjelang hari lebaran mampu memproduksi baju hingga 200 lembar perharinya.TEMPO/Iqbal lubis

Seorang pekerja tengah mengeringkan baju kaos yang telah disablon di salah satu industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Toko baju yang menawarkan desain-desain bertema lokal khas Makassar ini, menjelang hari lebaran mampu memproduksi baju hingga 200 lembar perharinya.Iqbal lubis

Seorang pekerja tengah membuat cetakan sablon kaos di salah satu industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Toko baju yang menawarkan desain-desain bertema lokal khas Makassar ini, menjelang hari lebaran mampu memproduksi baju hingga 200 lembar perharinya.TEMPO/Iqbal lubis

Seorang pekerja tengah membuat cetakan sablon kaos di salah satu industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Toko baju yang menawarkan desain-desain bertema lokal khas Makassar ini, menjelang hari lebaran mampu memproduksi baju hingga 200 lembar perharinya./Iqbal lubis

Seorang pekerja merapikan cetakan sablon kaos di industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Baju-baju yang menampilkan konten khas bahasa Makassar ini di jual dengan harga 90 ribu- 120 ribu perlembarnya.TEMPO/Iqbal lubis

Seorang pekerja merapikan cetakan sablon kaos di industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Baju-baju yang menampilkan konten khas bahasa Makassar ini di jual dengan harga 90 ribu- 120 ribu perlembarnya./Iqbal lubis

Seorang pekerja merapikan cetakan sablon kaos di industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Baju-baju yang menampilkan konten khas bahasa Makassar ini di jual dengan harga 90 ribu- 120 ribu perlembarnya.TEMPO/Iqbal lubis

Seorang pekerja merapikan cetakan sablon kaos di industri kreatif Bajiki Store, Makassar, Sulsel, Senin 13 Juli 2015 malam. Baju-baju yang menampilkan konten khas bahasa Makassar ini di jual dengan harga 90 ribu- 120 ribu perlembarnya.Iqbal lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *