“Beda sekali dengan Festival Danau Tempe 4 tahun sebelumnya.Dulu kami merasakan betul perpaduan budaya, adat dan perlombaan yang ditampilkan”

Pagi itu (31/8) masyarakat mulai memadati tepian danau Tempe kabupaten Wajo, tak seperti hari biasanya dimana aktifitas danau disesaki oleh para nelayan dan angkutan perahu motor. Ratusan anak sudah menunggu sejak pukul 8 pagi, mereka bersama orang tuanya mulai mencari tempat yang pas untuk menyaksikan pagelaran atau event tahunan di kota sutera tersebut. Tarian Padendang atau pemukulan lesung oleh 8 orang yang dianggap “pendeta” tidak mempunyai golongan gender–atau biasa disebut Bissu- menandai pembukaan Festival Danau Tempe di Kecamatan Tempe. Bupati Wajo, Burhanuddin Unru yang turut hadir dalam event tahunan itu juga memberikan sambutan hangatnya. “Event ini akan menjadi kalender wisata tahunan bagi masyarakat Wajo untuk mempertahankan budaya” Ujarnya.

Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang menjadi habitat satwa burung. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke Sungai Walanae, mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu-Batu yang berada di
tengah danau.

Perahu-perahu hias mulai dilepas satu persatu. Ada berbagai macam hiasan perahu mulai dari hiasan menyerupai ikan besar, sampai hiasan perahu yang mengangkut miniatur AlQur’an besar. Selain itu ada juga pertunjukan tari di atas perahu. Semua itu seakan membawa warna-warni berbeda di tengah danau seluas 13.000 hektare dengan latar belakang rumah terapung itu. Setelah perahu hias menepi, acara dilanjutkan dengan perlombaan perahu dayung. 3 Perahu dengan panjang sekitar 4 meter dan lebar sekitar 60 cm dengan sebuah lekukan moncong di ujungnya kemudian bersiap untuk berlomba. 11 orang yang berada diatasnya berusaha dengan tenaga dan kerjasama untuk mendayung secara bersamaan menuju garis finish. Teriakan masyrakat yang menonton menjadi penyemangat bagi para pendayung di perlombaan perahu dayung berkelompok tersebut. Lomba perahu dayung merupakan tradisi yang turun temurun dan terpelihara di kalangan para nelayan.

Peserta perahu dayung ebrusaha mencapai garis finis pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal lubis

Peserta perahu dayung ebrusaha mencapai garis finis pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal lubis

Sementara di daratan tak jauh dari danau yang memiliki ikan air tawar terbesar di dunia ini,sejumlah anak-anak berusaha memanjati batang pohon pinang yang dilumuri oli untuk menggapai hadiah yang digantung di ujungnya. Festival yang menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Wajo ini digelar setiap akhir bulan Agustus. “Adanya festival ini menjadi hiburan tersendiri buat warga dan anak-anak saya setiap tahunnya, yah semoga ini bertahanlah” ungkap Arsan yang hari itu datang bersama keluarganya dari kecamatan Belawa, kecamatan yang berjarak kurang lebih 5 km dari danau Tempe.

Namun euforia pesta dan perlombaan dalam festival ini masih dianggap kurang bagi sebagian masyarakat penghasil sutera tersebut. Menurut mereka masih banyak yang hilang dari kebudyaan yang ada sejak turun temurun di kampung mereka itu. “Beda sekali dengan Festival Danau Tempe 4 tahun sebelumnya.Dulu kami merasakan betul perpaduan budaya, adat dan perlombaan yang ditampilkan” Ujar Hendra (40) sambil berbisik saat saya asyik menikmati pesona danau Tempe.

Menurutnya beberapa rangkain ritual adat di awal seperti pemotongan sapi oleh ketua adat dari para nelayan itu sudah tidak ada lagi pada Festival danau tempe sekarang. Kemudian ia bercerita panjang tentang rangkaian budaya dan adat yang ia alami 4 tahun lalu. Sebelumnya acara ini selalu digelar setiap tanggal 23 Agustus, dengan nama Festival Laut di Danau Tempe. Acara pesta ritual nelayan ini disebut maccera tapparengatau upacara mensucikan danau yang ditandai dengan pemotongan sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan. Semua peserta upacara maccera tappareng ini memakai baju bodo (pakaian adat orang Bugis). Selain pertunjukkan tersebut adapula penampilan silat sendeng atau dahulunya dikenali sebagai seni silat sendeng. Ciri khas silat sendeng ini ada pada muara atau langkah dan cara menyerang tangan kosong yang unik serta praktis yang diperagakan 2 orang layaknya sang jawara. Sebagai penutup pada festival tersebut selalu ada penobatan putra-putri Wajo.

Pelaksanaan festival ini dimaksudkan agar nuansa kekeluargaan dan persatuan antar sesama nelayan tetap terjaga dengan prinsip 3-Syaitu: Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi (saling menyegani, salingmenasehati, dan saling menghargai). Dengan menyaksikan festival ini,para pengunjung dapat mengetahui tentang kebudayaan masyarakat Bugis diSulawesi Selatan, khususnya Bugis Wajo.

Sejumlah perahu nelayan yang telah dihias pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Sejumlah perahu nelayan yang telah dihias pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Festival itupun usai, rasa penasaran akan tradisi dan berbagai ritual adat yang digelar nelayan danau tempe tak terbayarkan. Saya hanya menikmati festival yang dulunya sangat sakral dikalangan masyarakat danau Tempe layaknya menonton sebuah pesta rakyat yang digelar setiap tanggal 17 Agustus. Beberapa ritual budaya yang menjadi dasar digelarnya festival ini seakan tergantikan oleh eforia para pemangku kepentingan. Bahkan menurut sebagian nelayan ikan tawar. Hasil tangkapan mereka dari danau Tempe tak lagi sebesar dan sebanyak saat maccera tappareng yang dahulu rutin dilaksanakan nelayan setiap tahunnya. Cerita sakral Hendra tadi, hanya menjadi dongeng belaka dingatan saya saat perjalanan pulang menuju Makassar.

 

Tarian mappadendang yang dibawakan oleh Bissu pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Tarian mappadendang yang dibawakan oleh Bissu pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Peserta perahu dayung berusaha mencapai garis finish pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal lubis

Peserta perahu dayung berusaha mencapai garis finish pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal lubis

Peserta perahu dayung berusaha mencapai garis finish pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Peserta perahu dayung berusaha mencapai garis finish pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Pertunjukkan tari diatas perahu pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014.

Pertunjukkan tari diatas perahu pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014.

Perahu nelayan yang telah di hias pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Perahu nelayan yang telah di hias pada festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis

Festival danau tempe, di Kawasan danau Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan, Minggu 31 Agustus 2014. Iqbal Lubis