Kue Otere dan Tali Kehidupan Keluarga

     “Cukup dengan uang Rp 10.000,- pembeli sudah bisa merasakan gurihnya kue tali-tali buatan saya,”

     Dari luar rumah berlantai dua itu nampak sepi, saya baru saja tiba dan memarkir motor terik matahri masih terasa menyengat hingga kekulit, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Rumah itu terletak tepat di samping pohon mangga di sebuah lorong Jalan Jabal Nur No 20, Kelurahan Maccini Raya, Makassar. Di depan pagar ada sebuah spanduk berukuran 2 x 1 meter bertuliskan “Kue Khas Makassar, menjual aneka kue-kue kering”. Aroma adonan kue berbahan terigu mulai tercium saat saya memasuki salah satu ruangan. Dalam ruangan yang bersebelahan dengan ruang tamu itu, seorang pria paruh baya dan lima orang perempuan berjilbab sedang sibuk mengerjakan adonan terigu yang sudah digunting menyerupai tali di atas meja panjang yang berukuran kurang lebih 5 meter.

Pria paruh baya berkaos oblong itu bernama Muhammad Yusuf Toro (53), ia dan 5 orang pekerjanya tengah asyik membuat kue otere atau dalam bahasa Indonesia disebut kue tali-tali.. Sepintas kue tersebut memang menyerupai tali tambang, hanya saja panjangnya tidak sepanjang tambang.

Pak Yusuf mempersilakan saya untuk melihat langsung proses pembuatan kue otere. Pembuatannya terbilang cukup mudah, para pekerja menyiapkan tepung terigu, gula pasir dan air secukupnya yang dicampur menjadi satu adonan. Adonan yang telah dicampur dengan sedikit bubuk pengembang tersebut kemudian ditekan (press) dengan alat tekan tradisional kemudian diiris membentuk potongan-potongan panjang dan pipih.

Potongan-potongan kecil tadi kemudian dipilin dua-dua sehingga bentuknya mirip tambang. Setelah proses pembentukan selesai, adonan didiamkan di sebuah tempat dengan suhu yang hangat selama kurang lebih 10-15 menit. Sembari menunggu, seorang pekerja menyiapkan alat wajan penggorengan dan memanaskan minyak untuk menggoreng adonan. Proses penggorengan berlangsung kurang lebih 3 menit hingga adonan mulai berwarna kecoklatan. Setelahnya, adonan yang sudah digoreng itu dipindahkan ke wajan yang telah berisi gula pasir yang mengental. Proses pencampuran adonan yang telah digoreng dengan gula pasir yang mengental itu adalah proses akhir sebelum kue yang sekarang berwarna cokelat dan berbentuk tambang itu siap untuk dikemas dan dipasarkan.

Usaha kue otere milik pak Yusuf ini dimulai sejak tahun 1987. Pria yang rambutnya mulai ubanan ini sebelumnya merupakan seorang pekerja pembuat kue otere di salah satu toko kue milik warga keturunan Tionghoa di jalan Rajawali. Namun usaha tersebut tak bertahan lama akibat sang pemilik tak mampu membiayai semua upah pekerja dan ongkos produksinya hingga akhirnya gulung tikar pada tahun (?). Karena melihat potensi bisnis kue ini sangat bagus, pak Yusuf yang baru saja terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di toko kue otere tersebut mulai merintis usaha ini bermodalkan pengalaman yang ia dapatkan selama bertahun-tahun.

Berbagai pengalaman dalam menjalankan bisnis kue yang memiliki cita rasa khas manis campur gurih nan renyah ini sudah banyak dijalani Pak Yusuf. Masuknya bermacam kue produksi pabrik besar yang datang dari pulau Jawa membanjiri Makassar juga sempat menjadi salah satu kendala bagi pria kelahiran Makassar ini. Ia bercerita, pada awal-awal merintis usaha tersebut ia banyak menerima pesanan dari toko-toko dan pasar sekitaran Makassar. Namun seiring masuknya beragam kue kering dari Jawa membuatnya harus memakai sistem “jemput bola” yang terus dipertahankan hingga saat ini. “Melihat pasar untuk kue ini di Makassar sudah mulai lesu, tahun 1992 saya mulai berfikir untuk jalan memasarkannya ke berbagai daerah yang ada di Sulawesi Selatan” ungkapnya. Berkat rasa optimisnya itu hingga saat ini ia sudah memiliki pasaran yang tetap bukan hanya di Sulawesi Selatan tapi juga di sejumlah daerah di Sulawesi Barat.

Berbeda dengan hari biasanya, pada saat menjelang lebaran produksi kue di tempat Pak Yusuf meningkat hingga 50 persen. Hari itu saja Rabu 2 Juli 2015, pak Yusuf dan anak buanya mendapat pesanan kue sebanyak 50 kilogram atau setara dengan 2 karung jika dikemas. Perjuangan dari daerah satuke daerah lainya sampai naik turunnya pesanan sudah menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan bisnis kue otere milik pak Yusuf. Dia juga menceritakan pengalamannya saat kewalahan memenuhi permintaan konsumen akibat tingginya pesanan dari berbagai daerah saat masa krisis moneter krismon) berkepanjangan tahun 1997. “Mungkin pada masa itu pasaran kue dari luar Makassar menurun akibat ongkos pengiriman yang tinggi. Tidak ada pilihan lain, minat masyarakat kemudian beralih ke kue lokal seperti kue otere. Sampai-sampai saat itu ada permintaan yang kami tolak” ujar pria sederahan ini sembari tersenyum kecil.

Kue tali-tali ini memang tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat, apalagi mereka yang sering memperhatikan cemilan selain Deppa Tori (jenis kue dari tepung dan gula merah dengan taburan jintan). Kue tali-tali ini sering kali ditemukan apalagi saat upacara adat kematian rambu solo di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Bagi masyarakat Tana Toraja, kue ini menyimbolkan ikatan pemersatu bagi mereka yang menikmatinya. Mungkin karena bentuknya yang menyerupai tali tambang. Tak heran jika cemilan dengan logo kemasan bergambar jempol di tengah simpul tali tambang ini paling banyak peminatnya dari Toraja.

Untuk harganya sendiri sangat bervariasi, tergantung ukurannya dan jumlah isinya. Kue ini dipasarkan mulai dari harga Rp 10.000,- hingga Rp 35.000,- per bungkusnya. “Cukup dengan uang Rp 10.000,- pembeli sudah bisa merasakan gurihnya kue tali-tali buatan saya,” ujar pak Yusuf.

Kerja keras dan kegigihan pak Yusuf bersama seorang istrinya Elsa Ella (49) yang setia menemaninya dalam menekuni bisnis kue kering juga tak lepas dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Usaha industri rumahan ini seakan telah menjadi tali kehidupan bagi orang-orang di sekitar rumah pak Yusuf. Terbukti dengan adanya bisnis kue tersebut, 5 di antara 7 pekerjanya yang aktif berasal dari tetangga-tetangga sekitaran rumahnya. Kesuksesan dan hasil usahanya selama 27 tahun juga sudah membuat 4 orang putranya, Muhammad Yusran, Syahrulla, Yusuf Wahil, Dan Ibnu Munsir berhasil meraih gelar sarjana.  1 lagi putrinya, Musfira masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini pula yang membuat nama usaha “Kue kering 4 Putra” tidak bisa lepas dari label kemasan kue Otere miliknya.

Anak pertamanya, Muhammad Yusran yang telah berkeluarga bahkan mengikuti jejak Pak Yusuf membuka usaha bisnis pembuatan kue otere yang berlokasi di Jalan Maccini Pasar Malam, tak jauh dari rumahnya. Pak Yusuf berharap usaha kecil seperti miliknya ini dapat diperhatikan oleh pemerintah setempat agar terus menjadi tali kehidupan bagi keluarganya. Meski keberadaannya terus diusik kue-kue lain yang lebih modern, namun kue otere buatan pak Yusuf tetap bertahan. Menjadi temali yang menyambung kehidupan keluarganya dan keluarga para pekerjanya.

 

 

Pemilik toko kue kering, Muahammad Yusuf Toro merapikan kue Otere yang telah dikemas di Industri rumahan 4 bersaudara  Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Kue otere atau kue talil-tali yang merupakan kue kering khas Makassar ini berdiri sejak 1980.Iqbal Lubis

Pemilik toko kue kering, Muahammad Yusuf Toro merapikan kue Otere yang telah dikemas di Industri rumahan 4 bersaudara Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Kue otere atau kue talil-tali yang merupakan kue kering khas Makassar ini berdiri sejak 1980.Iqbal Lubis

Seorang pekerja mengemas Kue Otere yang siap untuk dipasarkan  di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015.Kue kering yang biasa disebut kue tali-tali khas Makassar ini biasanya di sajikan saat lebaran tiba .Iqbal Lubis

Seorang pekerja mengemas Kue Otere yang siap untuk dipasarkan di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015.Kue kering yang biasa disebut kue tali-tali khas Makassar ini biasanya di sajikan saat lebaran tiba .Iqbal Lubis

Proses pencampuran gula dalam pembuata kue Otere  di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Proses pencampuran gula dalam pembuata kue Otere di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Seorang pekerja tengah membuat adonan kue Otere  di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Seorang pekerja tengah membuat adonan kue Otere di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Pekerja menmgangkat adonan  kue Otere  yang telah di bentuk di sebuah industri rumahan 4 bersaudara di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Pekerja menmgangkat adonan kue Otere yang telah di bentuk di sebuah industri rumahan 4 bersaudara di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Sejumlah pekerja tengah asyik membentuk adonan menjadi kue Otere di sebuah industri rumahan 4 bersaudara di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Sejumlah pekerja tengah asyik membentuk adonan menjadi kue Otere di sebuah industri rumahan 4 bersaudara di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015. Iqbal Lubis

Seorang pekerja tengah membuat adonan kue Otere  di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015Iqbal Lubis

Seorang pekerja tengah membuat adonan kue Otere di sebuah industri rumahan di Kawasan Maccini, Makassar, Kamis 02 Juli 2015Iqbal Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *