Membentuk Tubuh dan Paras Rupawan

Malam ini, Minggu (28/06/2015) inisiatif untuk membaca sebuah buku tiba-tiba datang, padahal sudah hampir satu tahun tak ada keinginan saya untuk menghabiskan satupun buku bacaan. Semua berawal ketika saya asyik berkumpul dan bermain di sebuah coffee shopdi kawasan batuh putih, Makassar bersama beberapa rekan. Tiba-tiba pandangan tertuju pada sebuah buku di atas meja. Buku berwarna kuning dengan sampul bergambar karikatur wajah seseorang berkepala plontos, berkacamata dengan senyum yang tak asing. Buku itu berjudul : “No Tulen Cakeppp! KANG MAMAN 2”. Buku itu milik Kak Mansyur Rahim atau yang akrab disapa oppa Lebug (@lelakiBugis) yang hari itu baru ia beli. Saya hanya membacanya secara sepintas, sebelum meminta ijin meminjamnya selama beberapa hari.Membaca buku itu, saya awali dengan melihat-lihat sampul, membuka lembaran demi lembaran. Akhirnya saya tahu, buku itu di tulis oleh seorang notulen sebuah program acara di televisi swasta bertajuk Indonesia Lawak Club. Namanya Maman Suherman, seorang pria kelahiran Makassar 10 November 1965 itu menuliskan cerita dari beberapa kumpulan kata-kata tentang kegelisahannya.

“Kegelisahan yang berbuah butir-butir cahayaterang. Rasa optimis tentang warga bangsa ini, tentang negeri ini. Dan butiran itu pula yang ingin saya bagikan kepada semua pembaca di buku ini”. Seperti itulah kutipan dalam bukunya di halaman Mukaddimah (Hal ix, Notulen Kang MAMAN 2) yang menceritakan ide dan gagasanya menuliskan buku itu. Saya tak sempat menjelajahi lembaran demi lembaran buku yang berjumlah 123 halaman tersebut . Pikiran saya kemudian singgah pada sebuah kalimat di lembaran berjudul Cantik (4). Kutipan tersebut ;

Untuk membentuk bibir nan menawan, lisankan kata-kata kebaikan .

Untuk dapatkan mata indah nan mempesona, Carilah kebaikan pada setiap orang yang kamu jumpa.

Untuk membentuk tubuh dan paras rupawan, bagikan makanan kepada mereka yang kelaparan.

Untuk dapatkan sikap tubuh indah dan elegan, berjalanlah dengan bermodalkan kepercayaan dan ilmu pengetahuan.

Jika itu dilakukan kamu takkan pernah melangkah sendirian.

(Hal 6, Notulen Kang MAMAN 2)

Bait-bait kalimat tersebutlah yang membuat saya singgah pada satu kalimat “Untuk membentuk tubuh dan paras rupawan, bagikan makanan kepada mereka yang kelaparan.” Kalimat yang membuat saya berencana untuk mengulas atau membuat review tentang tulisandi buku tersebut. Hanya saja kalimat tersebut kemudian mengantarkan saya pada ingatan tentang salah satu gerakan bernama Berbagi Nasi Makassar.

            Sebuah gerakan sederhana yang telah eksis di Makassar sejak Februari 2013 lalu. Saya katakan sederhana karena mereka(sekumpulan orang yang bergerak di dalamnya) bergerak denganbermodalkan sebungkus Nasi. Nasi bungkus yang terkumpul diatas 100 bungkus setiap minggunya. Mereka membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan di sepanjang jalan dan sudut kota Makassar. Mereka menyebut gerakan ini Berbagi Nasi, karena terdiri dari sekumpulan orang yang ingin berbagi nasi tanpa adanya paksaan atau dorongan dari siapapun. Namun gerakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah perbuatan atau keadaan bergerak pergerakan, usaha, atau kegiatan dil lapangan sosial (politik dsb) tindakan terencana yg dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat disertai program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan. Berdasarkan pengertian tersebut pantas sajah ketika mereka enggan menyebut Berbagi Nasi Makassar adalah sebuah komunitas ataupun organisasi.

Berbeda dengan komunitas ataupun organisasi pada umumnya, gerakan ini seakan berjalan tanpa adanya koordinator ataupun ketua yang mengatur dan bertanggung jawab atas semua aktifitas di dalamnya. Hanya saja pada saat gentayangan-sebuah istilah yang digunakan saat mereka berjalan membagikan nasi bungkus–mereka sepakat untuk menunjuk seseorang yang akan mengkoordinir gentayangan tersebut. Koordinator ini mereka sebut kapten Nasi.

            Gerakan ini awalnya muncul dari sekelompok pemuda di kota Kembang, julukan Bandung, yang lebih dahulu memulai gerakan Berbagi Nasi. Gerakan itu kemudian menyebar sampai ke Makassar. Pertama kali muncul di Makassar gerakan ini digerakkan oleh 5 orang. Dengan bermodalkan semangat berbagi, Jovwy Kumala, Mansyur Rahim, Yoeke Dewita Rasita, Ryan Hidayat dan seorang anak Bernama Ain yang hari itu masih bermur 4 tahun anak dari Jovwy Kumala. Bermodalkan 44 bungkus nasi mereka berjalan mengeliling kota makassar dengan cita-cita sederhana yaitu hanya ingin menghapus kelaparan di Indonesia. “Sederhana ji kegiatan ini.Intinya untuk mengajarkan kita lebih peka terhadap sesama” tutur Mamak, sapaan akrab Jovw Kumala.

            Menariknya, kegiatan berbagi nasi ini di awal-awal dilakukan setiap malam Minggu atau Sabtu malam, malam dimana sebagian orang memilih untuk menghabiskan waktu dengan sahabat, pacar dan keluarga. Mereka malah memilih untuk jalan-jalan membagikan nasi bungkus. “Sengaja dimalam Minggu untuk memfasilitasi orang-orang kerja, Sabtukan libur. Sekalian yang jomblo juga bisa mengisi malam minggu dengan sesuatu yang positif” Ujar kak Lebug sapaan Mansyur Rahim.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini terus dinamis, berjalan tanpa adanya kontrol dan tekanan dari pihak manapun. Meski sering mendapatkan tuduhan gerakan yang punya kepentingan politik. “Beberapa kali berbagi nasi ini dikira dari partai dan kelompok tim sukses, apalagi pas momen pilkada kemarin” tutur Lebug, pria gondrong yang gaya rambutnya menghampiri rambut Saut Sitomorang ini.

Selain membagikan nasi bungkus,mereka juga membuat berbagai kegiatan di momentum-momentum tahunan yang tak lepas dari konsep berbagi. Seperti merayakan kemerdekaan Republik Indonesia dengan para pemulung di TPA Antang, membuat kegiatan berbagi hari Nasi Sayang saat hari kasih sayang atau Valentine day. Mereka juga tak lepas dari kegiatan koloborasi dengan beberapa komunitas saat terjadi bencana dan musibah di wilayah Makaassar. Masih banyak lagi kegiatan lainnya yang menurut pandangan saya sangat cantik dan menawan hati untuk ikut di dalamnya.

****

Wadah Komunikasi

            Selain memanfaatkan sosial media seperti, website,twitter,facebook dan instagram sebagai media informasi kegiatan dan gerakan mereka,gerakan dengan perantara nasi bungkus ini juga memanfaatkan sebuah Grup LINE sebagai wadah informasi dan diskusi tentang apa yang akan mereka lakukan. Grup itu juga tak pernah sepi, selalu ada ide-ide dan diskusi menarik tentang keberlanjutan kegiatan mereka tanpa ada yang mendikte. Seperti yang dikatakan salah satu pejuang nasi, julukan bagi mereka yang ikut atau sudah pernah berbagi nasi. “Ide –ide gerakan atau kegiatan yang akan dilakukan biasanya muncul dari grup, meski masih banyak yang cuman menyimak. Tetapi tetap ji jalan” ujar Ardian, salah seorang dosen yang sudah 2 tahun eksis di gerakan ini.

            Gerakan inilah mungkin yang di maksud “Cantik,” dalam satu kalimat Maman Suherman dibukunya. Karena dibalik hiruk pikuk kehidupan kota Makassar yang kerap mencuatkan individualisme, ternyata terbantahkan oleh banyaknya orang yang masih membentuk tubuh dan paras rupawan tidak hanya dengan kesalon. Mereka adalah orang-orang yang turut serta dalam kegiatan Berbagi Nasi Makassar.

Mengutip kalimat terakhir di website Berbagi Nasi Makassar ;

“Inilah Berbagi Nasi Makassar, suatu gerakan sosial yang bertujuan menumbuhkan semangat berbagi dengan perantara sebungkus nasi. Sebungkus nasi untuk saudara-saudara kita yang masih tidur beralas bumi dan beratapkan langit”

 

Untuk lengkapnya tentang Berbaginasi Silahkan cek disini

Fujifilm-7 Fujifilm-3 Fujifilm-2 Fujifilm-4 Fujifilm-5 Fujifilm-6

Seorang pemuda dari gerakan berbagi nasi Makassar menata pesawat kertas di dekat lilin belasungkawa di Pelataran Gedung Miring, Makassar, Rabu 31 Desember 2014, Malam. Aksi Belasungkawa ini digelar saat malam pergantian tahun,sebagai bentuk simpati  untuk korban dan keluarga serta tim pencarian QZ8501.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang pemuda dari gerakan berbagi nasi Makassar menata pesawat kertas di dekat lilin belasungkawa di Pelataran Gedung Miring, Makassar, Rabu 31 Desember 2014, Malam. Aksi Belasungkawa ini digelar saat malam pergantian tahun,sebagai bentuk simpati untuk korban dan keluarga serta tim pencarian QZ8501.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang anak dari berbagi nasi Makassar membagikan nasi bungkus kepada buruh angkut di Pelabuhan Rakyat Paotere Makassar, Minggu 2 November 2014. Kegiatan berbagi sarapan ini rutin dilaksanakan setiap awal bulan untuk mengajarkan kepada anak muda dan anak usia dini tentang pentingnya berbagai antar sesama dan belajar lebih peka dengan lingkungan sekitar.TEMPO/Iqbal Lubis

Seorang anak dari berbagi nasi Makassar membagikan nasi bungkus kepada buruh angkut di Pelabuhan Rakyat Paotere Makassar, Minggu 2 November 2014. Kegiatan berbagi sarapan ini rutin dilaksanakan setiap awal bulan untuk mengajarkan kepada anak muda dan anak usia dini tentang pentingnya berbagai antar sesama dan belajar lebih peka dengan lingkungan sekitar./Iqbal Lubis

Sejumlah anak-anak dan pemulung mengikuti lomba lari karung dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI  ke 69 DI TPA Sampah antang, Makassar, Minggu (17/8) Peringatan hari kemerdekaan RI yang di gelar oelh gerakan Berbagi Nasi Makassar ini untuk menghargai perjuangan para pemulung yang berjuang dengan sampah dan dikuti puluhan pemulung serta anak-anak.TEMPO/Iqbal lubis

Sejumlah anak-anak dan pemulung mengikuti lomba lari karung dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 69 DI TPA Sampah antang, Makassar, Minggu (17/8) Peringatan hari kemerdekaan RI yang di gelar oelh gerakan Berbagi Nasi Makassar ini untuk menghargai perjuangan para pemulung yang berjuang dengan sampah dan dikuti puluhan pemulung serta anak-anak./Iqbal lubis

 

Comments (3)

  • Iyan Reply

    Andalangcuuuuu

    July 1, 2015 at 6:09 am
  • Imran Reply

    Wah, pantas saja anak-anak dari gerakan tersebut parasnya tampan cantik nan rupawan.

    Rupanya, itu rahasia mereka. Kalau ada kegiatan, ajak2 dong.

    Nice share, Om Iqbal Lubis.

    July 1, 2015 at 7:11 pm
  • Bimo Aji Widyantoro Reply

    Saya baru tau ternyata seperti ini ya sejarah terbentuknya Berbagi Nasi Makassar. Dulu awalnya saya malah berpikir komunitas ini apaan sih bagi-bagi nasi doang. ternyata anggapan saya keliru dan saya menyukai kegitan-kegiatan komunitas BerNas ini.

    Jangan patah semangat, teruslah berjuang berbagi kebaikan..

    July 2, 2015 at 10:31 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *