10 Ribu Kilometer, 62 Hari, 1 Indonesia

 

Ahad, 6 Oktober 2013, merupakan hari yang tidak akan saya lupakan. Di Sangihe, Sulawesi Utara, kepulauan paling utara Indonesia, saya akan memulai perjalanan impian: mengelilingi Indonesia.Blog-9

 

Mungkin kata “mengelilingi Indonesia” berlebihan karena saya tidak menyambangi seluruh pulau di Nusantara. Namun kami setidaknya akan melewati 3/4 jalur darat di Indonesia, melintasi Sulawesi, Nusa Tenggara, Jawa, dan Sumatera. Perjalanan itu bertajuk Honda Road Venture 2013 dengan rute SSS, mengacu pada tiga pelabuhan terluar yang kami lewati, yaitu Sangihe, Sappe (di Bima), dan Sabang.

Blog-3

Di teras sebuah rumah peninggalan Belanda di Sangihe, pikiran saya melayang ke akun Facebook milik Ahmad Yunus, beberapa bulan sebelumnya. Aktivis Aliansi Jurnalis Independen yang berkeliling Indonesia pada 2009-2010 itu memasang status yang menyatakan mencari seseorang yang bisa menulis, memotret, dan bersepeda motor untuk berkeliling Indonesia. Saya menanggapi tawaran sekali seumur hidup itu dan tergabung bersama sepuluh anggota komunitas sepeda motor Honda.

 

Lamunan saya terbuyarkan oleh panggilan berkumpul. Bersebelas, kami meninggalkan kepulauan yang terkenal dengan gunung api di bawah laut itu menuju Manado.

 

Sulawasi–pulau terbesar ke-11 di dunia–menjadi tantangan pertama kami. Dari Manado di ujung utara, target kami adalah Makassar di ujung selatan. Melalui Trans Sulawesi, melewati Gorontalo, Palu, Palopo, Tana Toraja, dan Pare-pare dengan jarak 2.500 kilometer.

Blog-2

Perjalanan menuju Gorontalo dihiasi hamparan nyiur dan birunya Laut Sulawesi di sisi kanan kami. Setelah berkendara lebih dari 400 kilometer, kami disambut lebih dari seratus anggota komunitas sepeda motor di perbatasan Gorontalo. “Budaya bikers, ya, seperti ini, silaturahmi,” kata Donny Ali, ketua Paguyuban Honda Gorontalo, Selasa malam, 8 Oktober 2013.

 

Paginya, saya dan rekan-rekan memeriksa tunggangan kami masing-masing. Alhamdulillah, tidak ada kekurangan pada sepeda motor saya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Palu, Sulawesi Tengah. Sesuai dengan kesepakatan, kami beristirahat saban dua jam. Selain untuk melepas lelah dan melancarkan peredaran darah, rehat dibutuhkan sepeda motor supaya tidak overheat. Dari Palu, kami lanjut ke Poso. Di kabupaten seluas 8.700 kilometer persegi ini, ketegangan seusai konflik antarumat beragama masih membekas.

 

Keinginan saya untuk bercumbu dengan jernihnya air di Danau Poso dicegah Ardi, rekan dari Club Motor Honda Tentena yang mengiringi kami di Poso. “Kalian harus keluar dari wilayah konflik sebelum matahari tenggelam,” katanya. Jantung pun sempat deg-degan saat melintasi beberapa gereja dan masjid yang habis terbakar di sepanjang jalan.

 

Menembus malam, kami tiba di Palopo, Sulawesi Tengah, pagi hari. Tak tahan kantuk, kami tertidur di pos ronda di tepi jalan bagian utara Palopo.

 

Dari wilayah konflik, kami menuju Tana Toraja yang dikenal sebagai destinasi wisata dunia. Rasanya bak bumi dengan langit. Betulan seperti di langit, karena begitu memasuki Toraja, mata kami disejukkan oleh hamparan awan putih yang terbentang di atas barisan pegunungan. Maklum, kami berada di 2.000 meter di atas permukaan laut. Lelah yang mendera langsung hilang. Apalagi setelah menyambangi kubur batu dan rumah adat Toraja yang berdiri tegak setelah ratusan tahun. Sembilan jam kemudian–sekitar 370 kilometer–kami pun tiba di Makassar, kota tempat tinggal saya.

 

Setelah dua hari di Makassar, kami mendarat di Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu pagi, 16 Oktober 2013. Teman perjalanan kami di Pulau Sumbawa adalah kuda liar dan sapi yang berkeliaran di sepanjang jalan. Seperti sedang berada dalam film-film koboi.

 

Di Dusun Sade, Lombok Tengah, kami mendapati kehebatan budaya suku Sasak. Meski matahari bersinar terik, suhu di dalam rumah bambu dan beratap ijuk itu sejuk bak berpenyejuk udara. “Enak nih buat tidur,” kata Arbi Darmawan, peserta asal Jakarta.

 

Melintasi Bali, kami tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, di ujung timur Jawa. Tujuan pertama kali di pulau terpadat di dunia ini adalah Gunung Bromo. Setelah melewati “rintangan” truk pengangkut pasir dan bus-bus antarkota yang menguasai jalur pegunungan menuju Malang, kami dihadang lautan pasir Bromo. Beberapa pengendara sepeda motor trail tersenyum melihat kami yang kesulitan menapak karena menggunakan ban standar. Akhirnya, setelah satu jam, kami berhasil melewati 10 kilometer pasir dan tiba di kaki ujung anak tangga menuju kawah.

 

Di setiap kota, kami menemukan teman baru, termasuk di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Tanpa memandang komunitas dan merek sepeda motor, berbagai kelompok pengendara yang berpapasan menjamu kami untuk sekadar beristirahat dan menengguk kopi hangat.

Blog-11

Setelah rehat sembilan hari di Jakarta, tepat pada Hari Pahlawan 2013, kami melanjutkan perjalanan. Tujuannya, Sabang, titik paling barat Nusantara. Debu dan pencakar langit Jakarta berganti debur ombak Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau yang terus meninggi.

 

Tantangan terbesar di Sumatera adalah jarak antarkota yang jauh. Belum lagi banyaknya jalan rusak di jalur lintas Sumatera, sehingga menghambat perjalanan. Misalnya, perjalanan Jambi-Medan yang diperkirakan 14 jam, molor menjadi 24 jam. Akibatnya, berulang kali kami tidur di pom bensin serta musala.

Blog-7

Sabtu, 23 November 2013, kami tiba di ujung barat Indonesia. Air mata tumpah saat kami menyanyikan Indonesia Raya di Tugu Titik Nol di Sabang. “Akhirnya kita sampai,” kata Septian Nulan Dhany, peserta asal Lampung, yang menjadi pemimpin perjalanan di Etape Sumatera. Lebih dari 8.300 kilometer kami lewati dalam 47 hari. Jarak itu masih ditambah perjalanan kembali ke Jakarta melewati sisi barat Sumatera, termasuk Padang dan Bengkulu, sehingga menjadi 10 ribu kilometer dalam 62 hari.

 

Saya bangga telah melihat sudut-sudut Indonesia dari dekat, merasakan Bhinneka Tunggal Ika yang tidak hanya sebagai semboyan. Perjalanan tersebut membuat saya semakin mencintai negara ini.

 

Ekpedisi Sangihe-Sappe-Sabang

Waktu: Oktober-Desember 2013

Peserta: 11 orang

Jarak Tempuh:

Etape Sulawesi: 2.500 kilometer

Etape Nusa Tenggara-Jawa: 2.000 kilometer

Etape Sumatera: 6.000 kilometer (pulang-pergi)

Blog-12 Blog-10 Blog-8 Blog-5 Blog-4 Blog

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *