Tradisi Memuliakan Leluhur Untuk Kehidupan Selanjutnya Yang Lebih Baik

Ada ratusan kebudayaan dan ritual adat yang terhempas di bumi nusantara. Hal inilah yang menjadikan Indonesia di juluki negeri yang kaya akan budayaan mistis. Di Sulawesi selatan ada kabupaten Tanah Toraja, yang dikenal dengan ritual adat khasnya yaitu Rambu Solo’ yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan ke daerah itu. Selain Rambu Solo’ ini, sebenarnya ada satu ritual adat yang langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’ Yakni dengan cara mengganti pakaian dari mayat keluaraga yang ditempatkan di dalam kubur.

IBL2012083110

Rasa penasaran yang tinggi mengantarkan saya bersama seorang rekan yang bekerja di salah satu TV Swasta berangkat dari kota Makassar menuju Tanah Toraja. Setalah lama menikmati perjalanan kami pun tiba. Perajalanan dengan menggunakan Mobil kami tempuh kurang lebih 8 jam dengan jarak tempuh 350 km. Tiba di kabupaten dengan julukan Negeri Orang Mati ini kami langsung membuka sebuah kamar di salah satu hotel tepat di kota Rantepao, Toraja Utara untuk beristirahat dan meluruskan seluruh badan karena esok harinya kami harus menuju lokasi up acara ritual Ma’nene .

Tepat pukul 9.30 WITA Pagi yang cerah dan cukup bersahabat, dimana tidak ada hujan ataupun kabut yang dijumpai selama perjalanan. Usai sarapan di Rantepao, perjalanan di lanjutkan menuju lokasi upacara ritual Ma’nene yang dilakukan di Gunung Sesean, Lembang Lempo Boton, Kec. Rinding Allo. Jarak menuju lokasi tersebut boleh dikatakan cukup jauh, yakni 28 km dari pusat kota Rantepao dengan melewati jalan aspal berbatu dan pendakian eksrim. Sekali-kali gardan dan bamper belakang mobil yang kami tumpangi kandas. Lebar jalannya pun hanya cukup untuk dilalui oleh satu mobil. Saat berpapasan dengan mobil, salah satunya harus mengalah dan menepi.

Meskipun kondisi jalanan yang sangat memprihatinkan, namun itu terobati denganadanya pemandangan dari terasering areal persawahan di Toraja Utara. Lahan sawah seperti ini cocok dilakukan pada daerah yang berbatu dan berbukit, Seperti di Toraja Utara. Keindahan alam seperti ini yang merupakan ciri khas dari Kabupaten Toraja Utrara, untuk itu peran perbaikan infrastruktur oleh pemerintah setempat sangat perlu diperhatikan, sebab banyak turis mancananegara yang berkunjung ke ke kabupaten termuda di Sulsel ini setiap tahunnya. Akses menuju ke sana bisa dengan angkutan umum jenis minibus L300 denga sewa Rp50 ribu atau menggunakan ojek motor yang tarifnya Rp50 ribu siang hari dan RP150 ribu malam hari, itupun hanya sampai pukul 19.00 Wita, lewat dari itu maka tidak akan dilayani.

Sekitar pukul 12:14 Wita, kami pun tiba dirumah keluarga besar yang akan melaksanakan ritual Ma’nene. Dengan udara sejuk lahan dan hawanya sangat cocok dengan pertanian, tuan rumah menyuguhi kami dengan kopi hitam has Toraja untuk mengusir angin masuk ke dalam tubuh.

Kuburan atau yang dikenal dengan ‘’Patene’’ keluarga dilaksanakannya ritual tiga tahunan ini tidak terlalu jauh, berada di pingggir jalan poros. Dengan berbatasan dengan kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawsi Barat disebelah Barat.

Dalam ritual Manene atau yang dapat diartikan menggati pakaian mayat yang ada di dalam kuburan dan liang dan liang batu tidak terlalu serumit dengan upacara kematian ‘Rambu Solo’. Cukup dengan mebuka pakaian lama kemudian seluruh tubuh mayat yang diawetkan dibersihkn menggunakan kuas khusus, selanjutnya dikenakan pakaian yang baru dan dikembalikan kedalam kuburan.

Ritual Ma’nene yang kami ikuti dilakukan pada 3 mayat keluarga meskipun didesa yang berhawa dingin ini ada puluhan mayat yang di ganti bajunya, diawali dari kakek buyutnya bernama Piter Sampe Sambara’ yang berusia 100 tahun lebih saat meninggal pada tahun 2003 lalu. Kedua Ne’Bose yang meninggal pada usia 80 tahun pada 5 tahun silam, dan terakhir Ne’ Martha Bu’Tu, kakak dari Piter Sampe Sambara’ sehingga umurnya diperkirakan lebih dari 100 tahun saat meninggal 40 tahun lalu.

Pieter Rayub, tokoh masyarakat Lembang Poton yang juga keluarga pelaksana ritual Ma’nene menjelaskan, bahwa proses tersebut sudah berlangsung sejakjaman dahulu. Yang waktu pelaksaannya tergantung dari kesepakan bersama lewat musyawarah desa antar pemuda dan tokoh masyarakat. Maka disepakati 3 tahun sekali dilakukan. Tujuannya agar keluarga besar yang perantauan bias datang menjenguk orangtua atau Nene To’dolo (nenek moyang), juga untuk mempererat hubungan silahturahmi orang perantau dengan orang tua yang masih hidup atau sudah meninggal agar lebih mengingat kampong halamannya.

Adapun kaitannya dengan proses awal mula turun menanam sawah, Ma’nene dilakukan sebelum musim tanam dimulai atau sesudah memotong padi, yang hasilpanen tersebut digunakan dalam prosesi tersebut.

Prosesi Ma’nene sendiri dimulai dari rapat kampung dengan pemuda dan tokoh masyarakat bahwa pekan ini akan dilakukan sebelum musim tanam dimulai. Dari hasil musyawarah kampung tersebut, maka keluarga yang di perantauan langsung dihubungi agar datang dan ikut Ma’nene.

Sebelum kuburan dibuka, Ne’Tomina Lumba, petua adat terlebih dahulu melantunkan bacaan dalam bahaha Toraja terdahulu, yang tujuannya untuk memberikan upacara selamat datang dan keberkahan buat musim tanam.

Ne’tomina sendiri merupakan gelar adat yang diberikan kepada tetua kampong, dimana artinya adalah seorang pendeta.

Setelah kuburan dibuka, para pemuda selanjutnya mengeluakan peti mayat secara berbondong-bondong. Dengan kehati –hatian mayat yang masih utuh tersebut diangakat dari peti lalu diberdirikan, selanjutnya mengganti pakaian yang lama dengan pakaian yang baru.Berbagai aksesoris pun tak luput dikenakan, seperti kacamata, gelang, dan kalung.

Tidak ada cara khusus atau aturan baku yang mengatur cara menggati pakaian, penggantaian baju layaknya seperti manusia yang masih hidup. Perlahan satu persatu kancing jas mayat yang di kenakan di lepas oleh keluarga. Kemuadian di lanjutkan dengan membuka baju batik yah telah nampak usam hingga celana kain berwarna abu-bau yang di kenakan selama 3 tahun lamanya. Sementara mayat yang berumur lebih dari 100 tahun dan tinggal tulang di bungkus dengan menggunakan kain kemudian di gulung meneyerupai dadar dan di ikat menggunakan tali.

Piter Sampe Sambara’ salah satu mayat yang pakaian lamanya diganti dengan baju batik lengan panjang, jas, celana kain, ikat pinggang, kacamata dan sebatang rokok. Maksud dari pemberian aksesoris tersebut oleh adat setempat agar arwah nenek monyang tersebut bisa menikmati. Selain menggati pakaian dari sang mayat sebagian keluarga yang di bantu masyarakat sekitar juga melakukan pembersihan dan merapikan

Prosesi untuk mengganti satu mayat tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu 30 menit. Yang selanjutnya berpinda kekuburan lainnya. Usai melakukan Ma’nene, para masyarakat kampung di Lembang Poton kemudian berkumpul mengadakan acara makan. Yang mana setiap keluarga menyumbangkan hewan sesuai kemampuannya, dan ritual terakhir ditutup dengan acara si semba’ yang artinya menendang, tujuannya agar terjalin kebersamaan.

Acara sisemba yang lebih terlihat seperti tawuran massal.Pasalnya, warga dari kampung tetangga, saling berhadap hadapan untuk melumpuhkan, dengan cara beradu kaki “tendang” secara massal. Bagi peserta yang jatuh, maka lawan tidak lagi diperbolehkan menyerang. Ada cara yang digunakan agar tidak mudah jatuh, mereka saling berpegangan tangan sambil menyerang dengan tendangan kaki.

Tak heran jika banyak warga yang mengalami cedera, mulai dari keseleo hingga luka terbuka akibat kerasnya tendangan lawan. Namun, jika ada peserta yang sudah dianggap terlalu kasar, maka para tokoh adat segera memisahkan mereka. Walaupun terlihat kasar dan keras, namun warga yang saling tendang di lapangan bebas, tidaklah membawa dendam hingga keluar arena.

Meski warga Lembang Poton termasuk suku Toraja. Tapi, ritual Ma`nene yang dilakukan setiap tahun sekali ini adalah satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa. Penduduk Lembang Poton percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan.

Dari mana asal muasal ritual Ma’ Nene’? Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, telantar, tinggal tulang-belulang. Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya. Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu beroleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya. Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.
NASKAH DAN FOTO : IQBAL LUBIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *