Di Sulawesi Selatan, Toraja di kenal kaya dengan kebudayaan dan ritual keberagaman dari zaman nenek moyang merek yang masih dipertahankan. Kehidupan masyarakat di daerah yang berjuluk “Tondok Lepongan Bulan, Tana Matarik Allo” ini, seperti menepis stigma buruk tentang konflik yang sering dipicu oleh perbedaan agama. Di Toraja, nilai agama dan budaya telah menguatkan semangat kerukunan, kekeluargaan, dan gotong royong di antara masyarakat.

Matahari senja baru saja tenggelam di ufuk barat. Malam pun merambat datang sementara kegelapan perlahan mulai menyelimuti bumi Tongkonan. Lantunan ayat suci Alquran dan wirid dari masjid-masjid mengantarkan beberapa warga berjalan menuju Mesjid. Suasan perkampungan yang tidak biasa di kabupten dengan jumlah penduduk beragama Katolik 49.967 orang ini bisa di Jumpai di Lembang (Desa) Marinding, Kecamatan Mengkendek, Tanah Toraja. Desa Marinding adalah satu-satunya desa di Toraja yang nuansa keislamannya nampak. Di desa yang dihuni oleh sekitar 4000 jiwa Jumlah umat Islam sekitar 10 persen dan terdapat empat buah masjid.

Suasana keislaman itu pun semakin kental terlihat pada bulan suci ramadhan dimana puluhan anak-anak seusai sholat Azhar sudah memadati mesjid Rahmatulah Kandora untuk melakukan Tadarrus sambil menunggu berbuka puasa. Kelompok perempuan sibuk mengurusi persipan buka puasa bersama, seusai berbuka puasa dan sholat maghrib seluruh warga msulim duduk bersam membentuk barisan banjar dan menyantap makan malam, kemudian meninggalkan mesjid setalah melakukan Sholat tarwih. Kegiatan seperti itu rutin di lakukan masyarakat desa Marinding Selama ramadhan. “Hal ini dilakukan untuk memperkuat Aqidah keislaman selama ramadahan” Ujar Imam Mesjid, Qhairil massorang (58). Pada hari-hari Biasa setelah Sholat Jumat mereka mengadakan pengajian akbar sebulan sekali. Pada pengajian ini semua umat Islam di desa ini berkumpul di salah satu rumah yang di tunjuk untuk mendengarkan ceramah. Pengajian tidak dilakukan di Mesjid karena pembangunan mesjid yang belum sajah rampung sejak pertama kali berdiri Tahun 1960.

Menurut Seorang tokoh agama, Dahlan Kembong Bangapdang (47) Awal masuknya islam ditoraja pada abad ke 20 melalui orang-orang Toraja yang merantau ke daerah-daerah muslim, dan setelah kembali kekampung mereka kemudian memeluk agama islam hingga saat ini. Mantan Kepala Desa Marindingg Selama 15 Tahun ini juga menjelaskan perkembangan pesat masuknya islam di Bua (nama toraja untuk desa). Perkembangan Umat islam terbesar pada saat terjadinya pergolakan segitiga anatara Tentara Nasional Indonesia, Barisan Tentara Indonesia (komunis) dan pasukan Darul Islam Indonesia yang saat itu di pimpin Abdul Kahar Mudzakkar, pada awal tahun 50 an. Sehingga terjadi kekacauan dan Sejumlah masayarakat memilih untuk mengungsi, ada yang lari ke hutan yang dihuni pasukan Jihad Qahar Muudzakkar dan lari ke kota yang di jaga TNI. “Meraka yang kembali dari hutan memeluk agama Islam yang hingga saat ini keturaannya masih bertahan di desa ini” Jelasnya saat ditemui di Rumahnya.

Desa yang berjarak 12 kilometer dari Makale, Ibu kota Kabupten Tanah Toraja ini, memiliki masyarakat muslim yang terus mempertahankan Ajaran-ajaran Islam di tengah gempuran budaya leluluhur yang masih di pertahankan Masyrakat atau kepercayaan Aluk To Dolo. Seperti Dalam tradisi upacara penyempurnaan kematian yang sering disebut rambu solo masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Namun dalam masyarakat yang menganut agama Islam tidak menjalankan tradisi tersebut karena di anggap lari dari ajaran Nabi Muhammad SAW. “Kalaou Upacara adat seperti itu kami memang tidak terlibat langsung hanya sajah kami ikut berpartispasi ketika ada kawan kami dari nasarani yang menggelar upacra adat tersebut” tegas, Dahlan. Seprti contohnya ketika Rambu solo para tamu yang datang memberikan Kerbau atau babi sebagai bentuk belasungkawa, kami hanya datang sebgai tamu dan memberikan amplop sebgai penggangtinya, hal ini untuk lebih menjaga toleransi beragama di antara masyarakat Muslim dan nasrani yang menjalankan adat tersebut. Meskipun penganut Aluk Todolo begitu tegas menerapkan aturan leluhur. Berani melanggar berarti bakal menyengsarakan warga dusun, misalnya mendatangkan petaka gagal panen. Tambahnya.

Meskipun masyrakat di desa tersebut memiliki keberagaman tradisi adat dan budaya serta agama namun cerminan kekeluargaan, dan gotong royong di antara masyarakat sangat tergambarkan. Umat nasrani yang mayoritas di desa tersebut juga sangat membuka pintu untuk umat muslim yang minoritas. Nilai gotong royong terlihat pada saat pembangunan rumah-rumah ibadah. “Meskipun kami berbeda keyakinan orang islam sering membantu kami apalagi saat ada pembanguna gereja mereka datang dan memberikan bantuan berupa tenaga begitupun bila sebaliknya.” Ujar Fredrikus (25) pemuda Katolik kelahiran desa marinding ini. Pergaulan tanpa batas antara Islam dan Kristen di desa ini memang tak bisa di pisahkan.

Dalam kurun waktu puluhan tahun terakhir, hampir tidak ada pertikaian antarpemeluk agama. Bahkan di saat rusuh dan perang berkecamuk di beberapa wilayah, seperti Poso dan Ambon, beberapa tahun silam di desa ini masih aamn-aman sajah. “Waktu rusuh di Ambon dan Poso, termasuk maraknya pemboman beberapa tahun lalu, kita sempat mengkhawatirkan itu ikut terjadi di Toraja. Untungnya agama dan masyarakat di Mariding berkumpul. Kita bentuk tim khusus untuk menjaga di rumah-rumah ibadah, yang terdiri dari pemerintah polisi, dan kelompok-kelompok masyarakat. Polisi termasuk masyarakat yang Islam berjaga-jaga di Gereja, di saat umat Kristen beribadah. Begitu juga sebaliknya. Polisi dan warga Kristen juga berjaga-jaga di Masjid,” kata Yohanes Tepu (60) Seorang Tokoh adat yang menganut agama Katolik. Penjagaan silang tersebut terus berlangsung. Hingga sekarang, meskipun tanpa diinstruksi, selalu banyak warga Katolik dan Kristen yang sering kumpul dan bercengkerama di depan beberapa masjid, saat ibadah salat tarawih. [IQBAL LUBIS]

Terbit di Majalah Tempo tahun 2013